Tim Labfor Mabes Polri Tilik Limbah PT RAPP
Kamis, 29 Mar 2007 18:05 WIB
Pekanbaru - Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri turun ke lokasi pabrik kertas PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di Pangkalan Kerinci Riau. Mereka meneliti sample air pembuangan limbah pabrik ini. Kedatangan Tim Labfor Mabes Polri ini disampaikan Kabid Humas Polda Riau, AKBP Zulkifli kepada detikcom, Kamis (29/3/2007) di ruang kerjanya. Dia menyebut tim Mabes Polri ini telah mengambil beberapa sample air guna penelitian lebih lanjut. Penelitian ini tentunya terkait dugaan limbah cair pihak perusahaan yang mengganggu kesehatan warga di sekitar pabrik. "Tim Mabes Polri sudah bekerja untuk meneliti ada atau tidaknya dugaan limbah cair beracun yang mengganggu kesehatan warga di aliran pembungan limbah pabrik RAPP. Namun kita belum mengetahui hasilnya," kata Zulkifli. Untuk mengetahui kapan hasil penelitian tersebut, menurut Zulkifli, pihak tidak dapat memastikan tenggat waktunya. Karena untuk membuktikan berbahaya atau tidak pengelolaan limbah barik RAPP, membutuhkan waktu yang lumayan lama. "Kapan batas waktu hasil penelitian ini, kita serahkan saja kepada tim Labfor Mabes Polri. Karena tim tersebut yang memiliki kewenangan untuk menjelaskan hasilnya," terang Kabid Humas Polda Riau. Turun Tim Labfor Mabes Polri ke lokasi pabrik kertas yang kini juga tersandung masalah illegal logging, sehubungan pada 19 Maret 2007 lalu, 16 warga Desa Sering Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, mengalami berbagai penyakit kulit. Setidaknya 16 warga desa sempat mendapat perawatan intensif di RS Bayangkhara Polda Riau. Direktur Walhi Riau, Joni S Mundung mengatakan, penyakit kulit yang diderita warga diduga akibat limbah clorin dari pabrik kertas PT RAPP. Hal itu dimungkinkan, karena perusahaan ini juga mengekspor sekaligus menggunakan clorin untuk pembersih bahan baku kertas. "Kami menduga kuat, warga yang mengalami penyakit kulit itu, kerena limbah perusahaan RAPP. Dan kami juga sudah melaporkan kasus ini ke pihak Polda Riau," terang Joni. Humas PT RAPP, Nandik S menyebut, untuk membuktikan segala tudingan tadi, perlu dilakukan penelitian mendalam soal penyakit yang diderita warga. "Bila saudara-saudara kita, merasa sakit akibat limbah RAPP, selayaknya dilakukan penelitian yang komprehensif," kata Nandi singkat.
(djo/cha)











































