Isu Flu Burung, Omzet Pedagang Ayam Palembang Turun

Isu Flu Burung, Omzet Pedagang Ayam Palembang Turun

- detikNews
Kamis, 29 Mar 2007 15:21 WIB
Palembang - Penjualan daging dan telur ayam di sejumlah pasar di Palembang Sumatera Selatan menurun. Kondisi ini menyusul kematian Marwia Putri (22) akibat terserang flu burung."Entahlah, berita di koran yang menyebutkan Marwia sering belanja ke pasar, terutama berbelanja ayam. Hal ini membuat warga Palembang ketakutan (membeli ayam)," kata Margono (44), pedagang ayam potong di pasar tradisional Kamboja, Palembang, kepada detikcom, Kamis (29/03/2007).Sejumlah media massa di Palembang, pada hari ini Kamis (29/03/2007) memang memberitakan Marwia Putri, mahasiswi FE Universitas Batang Hari Jambi, tewas terkena flu burung. Diduga Marwia tertular penyakit mematikan itu saat berada di Palembang. Selama di Palembang Marwia sering berbelanja ke pasar Kamboja untuk membeli ayam.Keluarga Marwia tinggal di kawasan Kamboja, tepat di lingkungn RT 30, Kelurahan 20 Ilir D-III, Kecamatan Ilir Timur I, Palembang.Pemberitaan tersebut berdasarkan analisa Tim Gerak Cepat Penanggulangan (GCP) Flu Burung Depkes RI."Dugaan terkuat dan paling masuk akal virus didapatkan di Palembang," ujar dr Eka Soni, koordinator tim kepada pers di Palembang, Rabu (28/03/2007).Alasannya, jelas Soni, Marwia sudah lama di Palembang, hampir satu bulan. Artinya, masa inkubasi virus sudah lewat. Jadi, dugaan yang mengatakan kalau virus didapatkan di lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Jambi yang dekat dengan peternakan ayam tidak terlalu tepat."Sebab, dia KKN sudah cukup lama, katanya awal Februari lalu. Kalaupun virusnya masih menempel di baju atau jaketnya yang tersimpan, tampaknya tidak terlalu tepat. Virusnya mudah mati bila kena panas," urainya.Selain itu, diduga virus didapatkan dari ayam atau unggas, bukannya kucing. Sebab, berdasarkan informasi dari pembantu keluarga Marwia, almarhumah rajin berbelanja kebutuhan sehari-hari ke pasar, yakni ke pasar Kamboja. "Apalagi katanya terakhir almarhumah sempat memasak ayam di rumahnya sambil menjaga ibunya yang sakit," jelasnya.Bukan hanya di pasar Kamboja, berdasarkan pemantauan di pasar Cinde, para pedagang ayam dan telor pun nyaris tidak disinggahi pembeli."Pemerintah harus tegas soal ini, jangan sampai kami dirugikan. Apalagi sebenarnya banyak peternakan kecil yang tidak tersentuh pembersihan flu burung. Ayam kami ini dari peternakan besar. Kalau seperti ini terus, hidup kami akan sulit," kata Hasan (31), pedagang ayam potong di pasar Cinde Palembang. Pernyataan Hasan itu mungkin ada benarnya, sebab warga Palembang termasuk bandel soal larangan memelihara unggas di lingkungan rumah. Bahkan, ketika pemerintah melarang pemeliharaan unggas beberapa waktu lalu, sebagian warga Palembang cuek. Mereka tetap memelihara ayam, bebek, maupun burung. (tw/djo)


Berita Terkait