Korban Flu Burung 'Selesai' di Tangan Bari dan Abumanu
Kamis, 29 Mar 2007 14:34 WIB
Surabaya -
Kamar mayat? Sebagian orang alergi masuk ke ruang ini. Namun tidak bagi Bari (51) dan Abumanu (60). Dua pria ini setiap hari harus rela bergelut dengan jenazah korban kecelakaan hingga yang meninggal karena flu burung. Bagaimana suka duka mereka selama mengabdi sebagai petugas di Kamar Mayat RSU dr Soetomo Surabaya?Pengalaman memandikan pasien flu burung diakui oleh Bari (51) sebagai pengalaman baru. Meski sempat bergidik dan takut, tapi ia hanya bisa pasrah. Dalam sepuluh hari saja, dua pasien positif flu burung di Surabaya meninggal, yaitu Wetono Hadi (39) asal Mojokerto yang meninggal 28 Maret dan Siti Nuraini (20) asal Mojokerto yang meninggal 19 Maret. "Cari uangnya dari sini, ya apa pun risikonya ditanggung. Tapi, untuk mengantisipasi agar tidak tertular, saya memakai baju pelindung dan taat dengan prosedur yang disarankan oleh tim medis," kata lelaki berbaju seragam hijau dan bersandal jepit kepada detikcom, Kamis (29/3/2007).Selama 6 tahun bekerja sebagai petugas kamar jenazah, banyak suka duka yang dialaminya. Tidak kenal lelah dan waktu, kapan pun harus selalu siap. Jenazah Mr X yang keluar dari ruang pendingin selalu berbau. Namun, baginya itu sudah biasa. Ia mengaku tidak pernah jijik atau takut dengan mayat-mayat itu. Setelah memandikan mayat rusak pun, Bari mengaku tetap dapat makan tanpa sendok, tentunya setelah mencuci tangan. "Bau sih bau, tapi ini kan tugas saya. Saya tetap bisa tidur atau makan seperti orang biasa. Meski saya pernah mengalami hal-hal aneh waktu pertama kali kerja," katanya. Sedangan Abumanu (60) yang menggeluti pekerjaannya selama 25 tahun di kamar jenazah pun tidak pernah mengeluh. Selain memandikan jenazah berpenyakit menular, ia juga sering menangani jenazah dengan kondisi hancur akibat kecelakaan, terbakar, dibunuh bahkan tanpa identitas atau Mr X. Mr X yang disebut Abu, adalah jenazah tanpa identitas atau tidak dikenal yang masuk ke kamar pendingin RS. Hampir setiap tiga hari sekali selalu ada jenazah tidak dikenal yang dikirim ke RSU dr Soetomo. Jumlah jenazah yang dalam 'pembukuan' setiap bulannya mencapai 20 hingga 25 mayat. Namun, selain mayat tak dikenal yang mayoritas adalah gelandangan dan korban kecelakaan atau kriminalitas, kamar mayat RSU dr Soetomo juga pernah dihuni oleh jenazah kalangan elit. Semisal, jasad tokoh NU Jatim, KH. Imron Hamzah.Kondisi jenazah-jenazah yang umumnya kiriman polisi itu beragam. Ada yang masih 'segar' karena belum lama meninggal. Ada pula yang sudah dalam keadaan rusak dan membusuk. Namun, buat Abu, memperlakukan jenazah normal maupun rusak hampir tidak ada bedanya. Semua jenazah tetap akan disimpan dua minggu hingga sebulan di kamar pendingin. Waktu tunggu diberikan untuk menjaga kemungkinan jenazah dikenali atau diambil oleh keluarganya. "Biasanya sih ada orang yang keluarganya hilang datang ke sini untuk melihat. Kalau pas cocok, ya biasanya langsung diambil. Jumlah yang dikenali biasanya cuma lima sampai enam jenazah. Tapi kalau jenazah gelandangan jarang ada yang mengambil," tambahnya. Setelah lewat 1 hingga 3 bulan jenazah tidak kunjung dikenali, petugas kamar mayat akan meminta konfirmasi kepada pihak kepolisian untuk memastikan bahwa jenazah sudah dapat dikuburkan, setelah diketahui penyebab kematiannya. Jenazah-jenazah itu akan dikuburkan di berbagai lokasi yang sudah ditetapkan. Semisal di kawasan Putat dan Kembang Kuning Surabaya. Kendati tak diketahui latar belakang maupun namanya, seluruh jenazah tetap diperlakukan dengan layak. Sebelum dikubur, mereka terlebih dahulu dimandikan, dikafani, dan disalatkan. Hampir seluruh jenazah tak dikenal prosesi pemakamannya menggunakan cara agama Islam. Khusus untuk korban kecelakaan, dokter forensik sering kali melakukan upaya rekonstruksi wajah untuk memperbaiki tampilan jenazah agar terlihat tidak begitu mengenaskan. Selain itu, seluruh mayat yang diotopsi, bekas sayatan otopsi tetap dijahit kembali.
(gik/asy)










































