'Teroris' Kibuli Jurnalis se-Surabaya
Rabu, 28 Mar 2007 12:49 WIB
Surabaya - Namanya saja wartawan. Meski hanya sekadar isu tetapi tetap harus ditanggapi serius. Takutnya isu itu jadi nyata, karena lazimnya memang begitu. Dan gara-gara isu penangkapan teroris, wartawan se-Surabaya dibuat kalang kabut. Mereka pun menyisir perkampungan Simogunung, Surabaya. Entah dari siapa awal isu jika Densus 88 Anti Teror kembali akan menciduk tersangka di Simo Gunung. Yang jelas sejumlah wartawan televisi dan fotografer langsung tancap gas menuju ke kawasan Simogunung. "Katanya ada penangkapan lagi. Tapi lokasi persisnya tidak tahu, saya juga nyisir," kata Slamet, kontributor TPI pada detikcom sambil memacu motornya, Rabu (28/3/2007). Tak kalah sengit, Rachmad Hidayat dari SCTV. "Aku sekarang keliling dari gang ke gang. Nggak jelas di mana lokasinya," terang Rachmad yang biasa dipanggil Cak Mat dengan nada bersungut-sungut. "Sopo to (Siapa sih) yang nyebar kabar nggak jelas iki (ini)," ujarnya. Setelah capek mengobok-obok kawasan Simo, akhirnya sejumlah wartawan cetak maupun elektronik memilih meluncur ke rumah tersangka terorisme Achmad Sahrul Umam alias Choirul (24) di Simogunung Baru Jaya III yang telah ditangkap sebelumnya. Namun, di rumah yang sempat menghebohkan warga karena ditemukannya detonator dan TNT itu wartawan juga harus menanggung kekecewaan.. "Kok sepi, tidak ada - apa," kata Abdullah Munir, fotografer dari Radar Surabaya. Meski tidak ada tanda-tanda penggeledahan, wartawan tetap menanti. Selain wartawan, kabar adanya penggerebekan itu juga membuat kalang kabut anggota kepolisian dari Polresta Selatan. Sejumlah petugas berpakaian preman hilir mudik di rumah Choirul. "Tadi memang ada dua orang petugas. Tapi hanya jalan-jalan saja di depan rumah Choirul. Tidak masuk kok," kata Wiwin, tetangga Choirul, kepada detikcom yang ikut menjadi korban isu tersebut.Memang beberapa hari ini, kosentrasi wartawan terfokus dengan operasi Densus 88 di Jawa Timur. Apalagi dua orang di Surabaya telah diciduk beserta barang buktinya. Dan kabar yang masuk ke telinga wartawan, akan ada lagi target yang akan diambil. "Lebih baik kecele dari pada kecolongan ya," kata Munir menghibur diri.
(gik/nrl)











































