Tim Pakar Bola Beton ITB Tidak Menjiplak Ide Tito
Rabu, 28 Mar 2007 09:10 WIB
Surabaya - RM Yehezkiel Marcelino Wiseso Tito boleh saja mengaku menemukan solusi bola beton (bolton). Tapi, tiga pakar ITB juga mengaku telah merancang teknologi bolton sejak Juli 2006. Jadi, tim pakar ITB sama sekali tidak pernah menjiplak ide Tito. "Kita sudah sejak Juli melakukan penelitian. Kita yang semuanya dari Fisika sudah melakukan hitung-hitungan mengenai itu. Lalu ketemulah bola beton. Bola beton ini konsekwensi dari hasil pemikiran kita," kata DR Satria Bijaksana saat dihubungi detikcom, Rabu (28/3/2007). Satria Bijaksana merupakan salah satu dari tiga ahli Fisika ITB yang merancang solusi bolton untuk mengurangi semburan lumpur panas Sidoarjo. Kedua pakar ITB lainnya adalah Dr.Eng. Bagus Endar B. Nurhandoko dan Dr. rer.nat Umar Fauzi. Menurut Satria, setelah melakukan penelitian selama berbulan-bulan ini, tim kemudian mengajukan proposal ke Lapindo Brantas Inc. "Usulan sudah lama kita kirim September. Tapi baru 8 Desember 2006 kita presentasikan ke Timnas," terang Dr Satria yang menjabat Kepala Laboratorium Karakterisasi Sifat Magnetik Batuan, Fisika, ITB ini.Mengenai adanya klaim dari Tito (43) asal Solo yang juga mengaku merancang teknologi bola beton untuk lumpur Lapindo, Dr Satria tidak mempermasalahkan. "Mungkin saja. Saya tidak menafikan, jika ada persamaan. Tapi kami mengembangkan teknik ini sendiri. Kami melakukan eksperimen sendiri," kilahnya. Dr Satria sendiri kaget ketika ada pihak lain yang mengaku juga punya gagasan yang sama soal bolton. "Saya baru tahu hari ini. Tapi sekali lagi saya tidak pernah melihat yang lain dalam mengembangkan teknik bolton ini," tegas dia. Dr Satria juga membantah temuannya itu setelah mendapat order dari Bupati Sidoarjo Win Hendrarso. Karena konsep Tito ternyata juga sudah dikirimkan ke bupati 2 September 2006 lalu. "Tidak pernah. Ini murni pengembangan kita sendiri," jawabnya singkat. Mungkinkah bolton ini mampu mengurangi volume semburan lumpur? "Mudah-mudah bisa. Sebab Timnas sendiri juga kesulitan menghitungnya karena celah keluarnya lumpur banyak sekali. Sekali lagi ini yang pertama di dunia," kata dia.
(gik/asy)











































