Idealnya Ada Calon Independen, Tapi Realitas Tak Mengizinkan
Rabu, 28 Mar 2007 05:32 WIB
Jakarta - Wacana tentang calon indepnden yang mengemuka pada pilkada DKI Jakarta sepertinya tidak akan bertemu dengan realitas, kendati hal itu dipandang ideal. Sikap politik warga DKI Jakarta dipandang belum dewasa."Ya bisa dibilang seperti itu (belum dewasa). Calon independen itu hal yang ideal, tapi saya lihat realitas tak mengizinkan," ujar pengamat politik Fachry Ali ketika berbincang dengan detikcom, Selasa (27/3/2007).Realitas yang tidak mengizinkan tersebut, menurut Fachry adalah masih kuatnya tarik-menarik antar parpol, terutama parpol besar. Fachry mencontohkan bahwa 2 cagub yang ada sekarang yaitu Adang Daradjatun dan Fauzi Bowo secara substansi bukanlah orang parpol, mereka adalah calon independen."Lihat di belakang Foke, banyak parpol besar di belakangnya, disana terjadi tarik menarik kepentingan. Adang itu polisi tapi wakilnya dari parpol," cetus dia.Calon independen seperti yang ada di Nanggroe Aceh Darussalaam (NAD) bersifat sangat khusus. Sedangkan keadaan politik di Jakarta menurut Fachry, sangat berbeda dengan di NAD."Kasus Irwandi Yusuf itu langka, belum pernah ada kejadian sebelumnya calon independen itu menang. Di negara-negara yang mengakomodir calon independen dalam undang-undangnya, mungkin kemenangan calon independen NAD ini baru pertama kali di dunia," imbuh Fachry.Fachry juga memprediksi keadaan politik di Aceh, 5 tahun sesudah kemenangan Irwandi Yusuf akan berubah, tidak ada lagi calon independen."Pada tahun 2011 mungkin sudah tidak ada lagi calon independen karena sudah muncul parpol lokal," pungkasnya.
(nwk/nvt)











































