Flu Burung Renggut Nyawa Wetono
Rabu, 28 Mar 2007 03:30 WIB
Surabaya - Kondisi pasien yang menderita flu burung, Wetono Hadi (39), terus memburuk. Rabu (28/3/2007) pukul 01.50 WIB, pria bertubuh tinggi besar itu meninggal.Sebelumnya, Wetono sempat diisukan meninggal. Sekitar 10 menit sebelum warga Kagok, Sidogede Perning, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto ini meninggal, pihak keluarga sudah diminta dokter RSU Dr Soetomo, Surabaya (tempat Wetono dirawat) berdoa."Kondisinya memang sangat buruk. Kemungkinan untuk sembuh dengan baik sangat sulit karena selain paru-paru kanan dan kiri penuh dengan bercak putih, pasien juga mengalami gangguan fungsi ginjal dan liver," ujar Ketua Forum Pers RSU Dr Soetomo, dr Urip Murtedjo, saat dihubungi detikcom, Rabu (28/3/2007) pukul 02.30 WIB.Dijelaskan Urip, hasil rontgen pada Selasa 27 Maret pukul 15.00 WIB menunjukkan paru-paru Wetono dalam kondisi buruk. Meski ginjal Wetono dibantu alat pompa, namun tidak dapat membantu kesembuhannya. Tekanan oksigen dan leukositnya terus menurun.Padahal, selama hidupnya, Wetono tidak pernah mengeluh sakit ginjal ataupun liver. Penyakit ini muncul bersamaan dengan virus flu burung yang hinggap di tubuhnya.Hingga pukul 03.00 WIB, jenazah Wetono masih berada di ruang isolasi Dr Soetomo. Prosesi memandikan jenazah pun dilakukan dalam ruangan tersebut. Usai dibalut kain kafan, jenazah Wetono dimasukkan dalam kantong plastik.Wetono meninggalkan seorang istri bernama Fathonah, dan dua anak yakni Ratna Anggraini (18) dan Richard (10). Pria ini sehari-hari bekerja di pabrik kayu dan metal di Parengan, Jetis, Mojokerto.Sejak Senin 19 Maret, Wetono mengalami demam dan batuk. Dia pun berobat ke dokter desa. Tak kunjung sembuh, dua hari kemudian dia pergi ke dokter kecamatan. Pada Sabtu 24 Maret, dia dibawa ke Puskesmas. Oleh Puskesmas, Wetono dirujuk ke RSU Wahidin Sudiro Husodo, Mojokerto.Tak lama, Wetono dirujuk ke RSU Dr Soetomo. Setelah diperiksa selama 4 jam, dia dimasukkan ke ruang isolasi. Hasil tes sampel darah yang datang dari Depkes pada Senin 26 Maret menunjukkan Wetono positif flu burung.Padahal Wetono tidak pernah kontak dengan unggas. Meski sebelumnya, enam ayam milik ayahnya (yang tinggal satu rumah dengan Wetono) mati mendadak. Pada 11 Maret lalu, Tambati (kakak Wetono) meninggal dunia setelah sebelumnya sakit demam dan batuk. Namun tidak diketahui apakah tambati juga terkena flu burung, sebab tidak pernah dibawa ke RS.Jenazah Wetono rencananya akan dimakamkan di TPU Sidogede, Mojokerto, pada pukul 09.00 WIB.Keluarga Wetono pun mengikhlaskan kepergiannya. "Ini yang terbaik, daripada sakit terus. Sebab adik iparku tidak pernah sakit sejak kecil. Tiap hari sepulang kerja selalu main voli," ujar kakak ipar Wetono, Sunyoto.
(nvt/nwk)











































