Konflik Thailand Selatan
Bu Guru Pun Jadi Prajurit
Selasa, 27 Mar 2007 12:46 WIB
Bangkok - Berbagai upaya dilakukan militer Thailand untuk menghadapi gerakan separatis di Thailand selatan yang tiada berujung. Salah satunya adalah dengan merekrut para wanita untuk menjadi prajurit. Langkah ini merupakan respons atas taktik baru kelompok separatis yang menggunakan wanita untuk membawa bom ataupun senjata. Demikian seperti diberitakan kantor berita AFP, Selasa (27/3/2007).Para prajurit wanita ini memiliki keunggulan dibandingkan tentara pria. Prajurit pria dilarang memeriksa tubuh perempuan yang dicurigai menyembunyikan senjata. Namun para prajurit wanita tak punya halangan untuk melakukan itu.Sekitar 130 wanita telah menjalani pelatihan selama enam pekan yang mencakup cara menembak, melakukan penggeledahan dan patroli serta teknik-teknik pertolongan pertama pada kecelakaan.Gara-gara konflik di Thailand selatan inilah, seorang perempuan memutuskan untuk meninggalkan profesinya sebagai guru. Sudthaya Sukthong memilih bergabung dalam pelatihan militer itu. Perempuan yang tinggal di wilayah konflik itu mengaku sudah terbiasa hidup dalam ketakutan kalau-kalau dirinya terbunuh. Ini karena selama tiga tahun, gerilyawan separatis melancarkan serangan mematikan hampir setiap hari di wilayah yang berbatasan dengan Malaysia itu.Jadi begitu militer memulai rekrutmen unit ranger militer yang seluruh personelnya wanita, Sudthaya pun maju. Alasannya, sebagai warga sipil dia tidak tahu bagaimana nasibnya nanti. Sebabnya, banyak orang tak bersalah yang telah menjadi korban separatis. "Jadi saya datang ke sini untuk mengabdi pada negara dan mati demi tugas. Itu lebih bermartabat dan terhormat daripada mati sia-sia," kata Sudthaya.Bu guru itu memilih meletakkan kapur tulisnya dan ganti memegang senjata M-16 serta berpatroli di daerah-daerah berbahaya di Thailand selatan.
(ita/nrl)











































