Peristiwa-peristiwa Misterius Menjelang Hilangnya dr Rudi

Peristiwa-peristiwa Misterius Menjelang Hilangnya dr Rudi

- detikNews
Senin, 26 Mar 2007 14:24 WIB
Peristiwa-peristiwa Misterius Menjelang Hilangnya dr Rudi
Solo - Sejumlah peristiwa diingat dan disaksikan oleh beberapa orang sebelum dr Rudi Satriawan menghilang sejak Jumat siang lalu. Dugaan-dugaan lalu muncul, termasuk kemungkinan terkait kasus terorisme. Apalagi karena Rudi seorang dokter dan Noordin M Top sedang dikabarkan sakit.Di rumahnya, Senin (26/3/2007) pagi, kepada detikcom dr Wahyu Nur Ambarwati, istri Rudi, dengan terbata-bata menceritakan kesaksian dan kontak terkahir teman-teman Rudi yang disampaikan kepadanya setelah Rudi menghilang tanpa kejelasan sejak Jumat.Sejumlah dokter, kata Ambar, mengaku melihat Rudi didatangi seorang lelaki berjubah dan berjenggot ketika menghadiri temu alumni dokter lulusan UNS di sebuah hotel di Solo, Sabtu (18/3/2007). Meskipun lulusan Unissula, namun Rudi menghadiri acara itu dengan alasan ingin bertemu beberapa teman."Beberapa teman dokter yang mengaku melihat kedatangan lelaki itu baru bercerita kepada saya setelah Mas Rudi hilang. Mas Rudi tidak bercerita tentang itu kepada saya," ujar Ambar yang juga seorang dokter."Tidak jelas benar apa yang dibicarakan Mas Rudi dengan lelaki itu, namun ada seorang teman yang sempat mendengar percakapan mereka seputar hal-hal medis. Bisa jadi orang itu juga seorang dokter, bisa juga kenalan Mas Rudi," lanjut dia.Cerita lainnya adalah yang disampaikan Ibu Mul, pemilik salah satu warung di kompleks RS Dr Moewardi Solo. Kepada Ambar, Bu Mul ini mengaku beberapa didatangi oleh seorang lelaki yang sering menanyakan dr Rudi yang sedang kuliah spesialis dan berasal dari Karanganyar."Alamat itu jelas salah, karena suami saya lahir Madiun, alamat orangtua di Sukoharjo dan kami juga tinggal di Sukoharjo. Tapi dari semua dokter yang saat ini sedang mengambil spesialis di RS Moewardi, tidak ada satu pun yang bernama Rudi selain suami saya," kata Ambar.Kepala Puskesmas Jatipuro, Karanganyar, dr Kristanto memiliki cerita sendiri. Jumat (24/3/2007) pagi, Rudi menghubunginya lewat telepon. Kata Ambar, Rudi memang sangat akrab dengan Kristanto, karena pada tahun 2001 Rudi menjadi dokter PTT di Jatipuro.Namun karena dia sedang sibuk, telepon itu diterima asistennya. Saat itu Rudi mengaku sedang ingin bicara sangat penting dengan Kristanto. Jumat siang, Kristanto sudah tidak dapat lagi menghubungi Rudi.Kristanto lalu menghubungi bagian Paru-paru di RS Moewardi dan diberitahu bahwa Rudi sudah tidak di tempat. Kristanto mengaku saat itu penerima telepon di RS Moewardi mengatakan bahwa sejak pagi Rudi memang kelihatan murung.Sementara itu seorang tukang tambal ban di depan RS Moewardi mengaku melihatnya seusai salat Jumat, Rudi berjalan kaki keluar dari rumah sakit bersama dua orang lelaki. Tukang tambal ban itu mengaku selanjutnya tidak memperhatikan kemana Rudi dan kedua orang itu pergi.Terkait Terorisme?Mungkinkah Rudi, dokter muda yang pendiam ini terlibat kasus terorisme? Mungkinkah dokter sederhana dan pendiam ini menjalin hubungan dengan kelompok tertentu yang berkaitan dengan tindak kekerasan atau terorisme?Pertengahan 2006 lalu, detikcom mendapat informasi tentang kondisi kesehatan Noordin M Top yang sedang kritis. Noordin dikabarkan menderita sakit hepatitis yang membuatnya terpaksa harus berbaring di tempat persembunyiannya, yang saat itu dikabarkan berada diantara Boyolali - Semarang.Menurut sumber itu pula, saat ini pun Noordin masih dalam kondisi sakit. Selama ini ada beberapa orang yang selalu berada di sampingnya untuk merawat dan menjaganya. Selain itu, Noordin juga mendapat perawatan medis secara sembunyi-sembunyi dari beberapa simpatisan.Mungkinkah Rudi salah satu dari simpatisan yang memberikan perawatan itu? Masih terlalu dini untuk menduga-duga masalah tersebut. Sejauh ini, pihak kepolisian juga belum memberikan penjelasan apa pun.Ambar dengan tegas membantah spekulasi itu. Dia yakin suaminya tidak bergabung dengan kelompok apa pun dan dimana pun. Dia tahu betul, sejak kuliah suaminya tidak bergabung di organisasi kemahasiswaan sekalipun, apalagi setelah menjadi dokter."Dia hanya seorang dokter biasa dan selalu konsentrasi di pekerjaannya itu. Dia tidak pernah keluar rumah selain urusan pekerjaan itu. Saya yakin suami saya tidak mengenal dengan kelompok-kelompok apa pun, apalagi masuk menjadi anggotanya," papar Ambar. (mbr/asy)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait