Jumlah Penderita TBC di Jatim Masih Terbesar
Sabtu, 24 Mar 2007 11:24 WIB
Surabaya -
Propinsi Jawa Timur masih tercatat memecahkan rekor untuk jumlah penderita Tuberkulosis (TBC) terbesar dibanding propinsi lain di Indonesia. Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim, ada tren peningkatan jumlah penderita TBC hampir 43 persen.Tahun 2005, ada 812 penderita yang diobati. Setahun kemudian, jumlah penderita TBC yang berobat mencapai 1.859 orang. Angka penderita TBC atau yang juga disebut TB diperkirakan akan meningkat tahun 2007 ini. Kondisi tersebut memang mencengangkan. Sebab, TBC bukanlah penyakit baru yang belum ada obatnya.Menurut Setyo Nugroho, Pengelola Program Penanggulangan TBC Dinkes Jatim, menyatakan memang belum ada data pasti jumlah penderita TB tahun ini. Tapi, kalau pun angka penderita TBC yang terdata meningkat, itu belum pasti hal buruk. "Peningkatan tersebut bisa menunjukkan makin luasnya cakupan penderita TBC. Artinya, makin banyak penderita TBC yang mau berobat," katanya saat dihubungi detikcom, Sabtu (24/3/2007).Tahun lalu, baru 62 persen (1.859 orang) dari seluruh penderita yang berobat. Dinkes pun memperkirakan masih ada 1.146 pasien TBC yang belum berobat. Mereka yang masih belum mau berobat itulah yang cukup menggelisahkan. Sebab, satu penderita TBC bisa menulari 10-15 orang di sekitarnya. Mereka yang tertular pun tak cuma dari kalangan dewasa. Tahun lalu, ditemukan 250 anak penderita TBC. Hal itu tentu sangat berbahaya karena daya tahan tubuh anak belum terbentuk sempurna."Mereka mudah sekali tertular atau kena bibit penyakit. Biasanya, sumber penularan dari orang tua atau kerabat terdekat," ungkap Setyo. Selain itu, gejala TBC seperti batuk darah, sesak napas, dan keringat berlebih, tak terlihat pada anak. Itu karena kuman masih tidur di tubuh pasien. Setelah anak tersebut dewasa, kuman baru menyerang organ vital tubuh. "Kebanyakan, penderita TBC saat ini telah menyimpan bakteri sejak masih anak-anak," tambahnya. Dengan adanya fenomena tersebut, pada Hari TBC sedunia, Setyo benar-benar menginginkan masyarakat sadar pentingnya penanggulangan TBC. Pasien diminta, berobat rutin selama 6-8 bulan. Mereka juga harus meningkatkan daya tahan tubuh agar tak mudah terkena penyakit. "Kami akan mengadakan kampanye besar-besaran untuk menyosialisasikan hal ini," kata Setyo. Untuk itu, pihak Dinkes telah bekerja sama dengan beberapa instansi tentang kampanye hari TB sedunia. Beberapa yang digandeng adalah Koalisi Untuk Indonesia Sehat (KUIS) dan Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).Sejak 125 tahun lalu (1882), Robert Koch telah menemukan kuman mycobacterium, penyebab TBC. Sejak penemuan itu, tiap 24 Maret ditetapkan sebagai Hari TBC sedunia (World TB Day).
(gik/ken)










































