TNI AD Teliti Apakah Puing Heli Bagian dari Bangkai Heli 1996
Jumat, 23 Mar 2007 17:59 WIB
Jakarta -
Penemuan bangkai heli Bolcow di kawasan Gunung Sibayak, Deli Serdang diseriusi TNI Angkatan Darat (AD). TNI AD akan meneliti apakah bangkai heli yang ditemukan warga Rabu lalu itu merupakan bagian dari bangkai heli Bolcow yang ditemukan tahun 1996. "Kita ingin mendapatkan masukan lagi, termasuk dari masyarakat. Kita juga akan menyelidiki lagi untuk memastikan apakah puing itu bagian dari pecahan heli yang dulu ditemukan tahun 1996," kata Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) TNI AD Brigjen TNI Ricardo Siagian kepada detikcom, Jumat (23/3/2007). Menurut Ricardo, pencarian data dan masukan itu nantinya akan dilakukan oleh Kodam I/Bukit Barisan (BB) yang saat ini terus memonitor kasus penemuan bangkai heli itu. "Ini menjadi tanggung jawab TNI AD untuk mengkoreksi temuan tahun 1996 dan 2007 ini," jelas Ricardo. Kemungkinan puing heli yang baru-baru ini ditemukan sebagai bagian dari puing heli 1996 memang bisa terjadi. Sebab, kata Ricardo, berdasarkan laporan yang diterima TNI AD pada tanggal 1 April 1996 disebutkan bahwa puing heli yang ditemukan di tepi sungai Laugedang itu tidak utuh. "Dalam laporan itu, ditemukan badan pesawat hancur. Yang tersisa hanya bagian ekor, tapi baling-baling utama hilang, instrumen hancur, dan mesinnya juga hilang. Tapi, tidak ditemukan bekas terbakar," ujar dia. Sementara itu, penemuan bangkai heli baru-baru ini juga tidak lengkap. Di lokasi yang telah didatangi Tim SAR pada Kamis (22/3/2007) kemarin itu, memang ditemukan baling-baling, mesin, dan beberapa bagian lain. Bisa jadi, saat terjatuh, heli Bolcow HS 7060 itu terpecah menjadi dua bagian. Ricardo memastikan bangkai heli yang ditemukan 1996 sudah dievakuasi. Kerangka lima jenazah para korban itu juga sudah dievakuasi oleh tim darat dari Kodim 0205/Kabanjahe ke Medan untuk diperiksa secara forensik guna mengindentifikasi secara visual. "Dua jenazah beridentifikasi jelas, yaitu pilot Lettu Art Irawan CP dan copilot Letda Czi Asep Mulyadi. Sementara tiga kerangka lainnya tidak teridentifikasi dengan jelas dan tidak diketahui nama-namanya dalam laporan tersebut," kata Ricardo.Berdasarkan penelusuran detikcom ketiga korban lainnya itu adalah Burhan Piliang (mantan wartawan Majalah Tempo dan Prospek), Diaz Barlean (mahasiswa IKJ), dan Temi Setiawan (mahasiswa IKJ). Ketiganya menumpang heli ini menggarap proyek film dokumenter dari PLN. Sesuai laporan ke TNI AD 1 April 1996, diketahui heli itu jatuh pada 22 Agustus 1994 di titik koordinat 412.556.70 di lereng Gunung Sibayak, di tepi sungai Laugedang. Status heli tersebut adalah milik Penerbangan Angkatan Darat (Penerbad) yang di-BKO-kan ke Kodam I/BB. Ricardo membantah bahwa saat itu pemberitaan tentang jatuhnya heli itu tertutup. "Kalau dibilang peristiwa jatuhnya pesawat itu dan evakuasi terhadap korban dikatakan tertutup itu tidak benar, karena ada bukti forensik dan itu kan ditemukannya oleh masyarakat sendiri," ujar dia. Ketika ditanya apa betul heli itu disewa kalangan sipil, Ricardo membantahnya. "Tidak benar disewakan. Itu kan perintah terbangnya dari Kodam I/BB. Kalau dikatakan apakah mereka menumpang, juga tidak jelas di dalam laporannya, karena laporan itu masuk ke Dispenad," ujar Ricardo.
(asy/nrl)










































