Pil KB Khusus Pria Ala dr Bambang
Jumat, 23 Mar 2007 17:08 WIB
Surabaya - Kaum pria yang ingin menunda punya momongan, tidak lagi harus menggunakan kondom jika bercinta dengan istri tercinta. Sebab ada alat kontrasepsi model baru yang aman tanpa efek samping. Cukup menelan pil yang berbahan baku tanaman justicia gandarussa atau gendarusa burm. Kontrasepsi jenis oral ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan dr Bambang Prajogo EW MS, salah satu staf pengajar di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Surabaya. Bambang menjelaskan, penelitiannya ini diilhami dari kehidupan masyarakat di Papua. Di sana, pasangan suami istri yang sudah menikah tapi belum membayar mahar, tidak boleh punya anak dulu. Nah, pasutri tersebut diwajibkan makan tanaman justicia gendarussa burm. Tanaman yang dikenal dengan nama gendarusa ini sejenis tanaman perdu, banyak ditemukan sebagai tanaman pagar rumah. Dari penelitian empiris tersebut terbukti bahwa pasutri yang makan tanaman itu tidak bisa punya anak. "Padahal, mereka tetap melakukan hubungan intim dengan pasangannya," katanya saat ditemui detikcom di kampus B Unair Fakultas Farmasi, Surabaya, Jumat (23/3/2007). Dari penelitian empiris ini, Bambang meneruskannya secara ilmiah. Dia lantas meneliti khasiat tanaman justicia gendarussa burm. Penelitian tersebut berlangsung mulai 1987 hingga sekarang. Sebelumnya, kontrasepsi baru ini juga sudah diuji coba ke tikus putih kecil. Caranya, bahan kontrasepsi tersebut disuntikkan ke tikus jantan. Kemudian, tikus ini dibiarkan kawin beberapa kali. "Tidak ada anak dari hasil perkawinan tikus tersebut," kata dr Bambang. Setelah diteliti, ternyata bahan yang disuntikkan ke tubuh tikus jantan mengandung zat anti hyaluronidase. Yakni, memanipulasi radar yang membuat sperma tidak bisa menemukan posisi sel telur. Sekaligus membuat gerak spermatozoa (sel sperma) jadi lamban. Pada akhirnya, sperma tak bisa menembus dinding sel telur. "Sehingga tidak terjadi pembuahan meski kawin berkali-kali," jelasnya. Selain simpel karena hanya diminum dan tidak menyakitkan, kontrasepsi ini juga tingkat reversibilitasnya tinggi. Artinya, setelah berhenti mengkonsumsi, dalam jangka waktu 70 hari fungsi hormonalnya bisa kembali semula. Sehingga yang mengkonsumsi tak perlu khawatir. "Tak perlu takut," promosinya. Meski begitu, Bambang mencoba menyempurnakan unsur-unsur dalam kontrasepsi oral tersebut sehingga memenuhi syarat keamanan, berkhasiat tinggi serta kualitas baik. Kontrasepsi oral ini juga harus memenuhi syarat tidak mutagenik. Artinya, laki-laki yang mengkonsumsi kontrasepsi itu, gennya tidak mengalami perubahan. Selain itu, juga tidak teratogenik yang menimbulkan kecacatan serta non karsinogenik, yakni tidak menjadi pencetus munculnya kanker. "Persyaratan-persyaratan tersebut telah dilakukan. Hasilnya baik semua. Artinya, kontrasepsi oral tersebut aman bagi manusia. Bahkan efek sampingnya pun tidak ada, semisal gairah atau libido tidak terganggu, pusing, keringat dingin dan muntah-muntah pun yidak ada," katanya. Hasil penelitiannya tersebut, kata dr Bambang, akan dipaparkan dalam International Symposium I.O.C.D Biology, Chemistry, Pharmacology and Clinical Studies of Asian Plants, April mendatang di Hotel Hyaat Surabaya.
(fat/nrl)











































