Proyek Peternakan Sapi Rp 14 Miliar Gagal di Riau

Proyek Peternakan Sapi Rp 14 Miliar Gagal di Riau

- detikNews
Jumat, 23 Mar 2007 16:26 WIB
Pekanbaru - Pemerintah Provinsi Riau dalam APBD Tahun 2006 mengalokasikan dana Rp14 miliar dalam proyek peternakan sapi potong asal Australia. Anehnya tahun anggaran sudah habis, proyek belum teralisasi. Hal itu ditegaskan, Anggota Komisi B DPRD Riau, AB Purba saat dihubungi detikcom, Jumat (23/3/2007) di Pekanbaru. Menurutnya, pengalokasian dana proyek peternakan sapi memang tergolong cukup besar. Itu disebabkan, penyesuaian harga dengan jenis sapi asal Australia . Tapi dalam prakteknya, tahun anggaran 2006 sudah habis, proyek peternakan sapi dengan tujuan Riau pengekspor daging ke wilayah Asia ini belum juga berjalan. Baru-baru ini pihak DPPRD Riau melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Kampar dan Rokan Hulu (Rohul). Dalam kunjungan kerja itu, diketahui wilayah Kampar dalam anggaran proyek disebutkan akan mendapatkan jatah sapi sebanyak 150 ekor. Sedangkan untuk Kabupaten Rohul mendapat jatah 200 ekor sapi. Sapi-sapi ini diprioritaskan sapi unggulan atau sapi induk asal Australia untuk dikembangkan sebagai sapi potong di Riau. "Fakta di lapangan, sapi yang baru diterima di Kabupaten Kampar hanya 30 ekor dan Rohul hanya 20 ekor. Padahal proyek peternakan sapi ini dianggarkan untuk tahun 2006. Tapi sampai sekarang, belum juga terealisasi walau tahun anggaran baru sudah berjalan tiga bulan," kata AB Purba. Menurutnya, proyek peternakan sapi yang ditangani Dinas Peternakan Provinsi Riau boleh disebut sebagai proyek gagal. Sebab, anggaran proyek sendiri merupakan ABPD tahun 2006 lalu. Pihak DPRD Riau sendiri sudah boleh balik meminta klarifikasi atas keterlambatan proyek peternakan sapi potong ini. Namun, masih menurut AB Purba, Kepala Dinas Peternakan (Marzuki Husein-Red) selalu memberijawaban sulitnya transportasi. "Setiap kali ditanya, selalu dijawab bahwa transportasi pengangkutan sapi dari Austrlia ke Indonesia terkendala gelombang laut yang besar. Masak dari dulu itu saja jawabannya. Ini tidak masuk akal," ungkap AB Purba. (cha/djo)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads