Sutarjo, Mubaligh Yang Tertutup
Jumat, 23 Mar 2007 13:13 WIB
Solo - Sutarjo Qomari, 33 tahun, Selasa (20/3/2007) sore pergi dari rumahnya di Temulus, Pondok, Grogol, Sukoharjo. Mubaligh muda yang kesehariannya membuka usaha bengkel sepeda tersebut Kamis sore kemarin kembali ke rumah. Kali ini dengan pengawalan polisi khusus. Di rumahnya ditemukan sejumlah barang berbahaya.Sri Suyani, istrinya, menolak ditemui wartawan, Jumat (23/3/2007) siang. Dia meminta tolong Sutris, tetangga depan rumahnya untuk menemui wartawan. Selanjutnya perempuan berjilbab itu masuk rumah dan meninggalkan warung kelontongnya yang bersebelahan dengan bengkel suaminya.Sehari-hari Sutarjo dan Yani beserta dua anaknya memang tinggal di rumah orangtua Yani di Dusun Temulus RT 1 RW 7, Pondok. Rumah mereka yang berada di Temulus RT 4 RW 7 dibiarkan kosong. Namun justru di rumah kosong inilah Sutarjo menyimpan sejumlah dokumen dan barang-barang berbahaya.Kepada wartawan Sutris mengatakan Yani, demikian Sri Suyani biasa dipanggil, telah dipesan oleh pihak berwajib untuk tidak menerima tamu apalagi untuk wawancara seputar kasus yang menimpa suaminya. "Mbak Yani telah dipesan hanya boleh menerima kedatangan petugas," ujar Sutris.Sutris memaparkan dia bertemu terakhir dengan Sutarjo Qomari pada Selasa pukul 17.00 WIB. "Saat itu dia pergi dan mengatakan akan mengisi pengajian di Karanganyar. Saya tidak bertanya lebih detail karena dia memang seorang mubaligh," ujar Sutris yang menilai Sutarjo sebagai lelaki yang ramah dan baik.Keterangan ini berbeda dengan yang disampaikan Sutarjo kepada ibunya, Ny Harjo Diyono, saat meminjam motor Honda Supra milik Murtini, adik kandung Sutarjo. Selasa pukul 14.00 WIB, Sutarjo mengambil motor dan kepada ibunya mengatakan akan pergi ke Klaten.Agus Iswanto, Ketua RT 4 RW 7 memiliki penilaian lain. Menurutnya Sutarjo selama ini memiliki kepribadian yang tertutup. Aktivitasnya lebih sering diluar kampung. Baru sekitar dua tahun terakhir Sutarjo terlihat bisa menjalin hubungan yang lebih cair dengan warga kampung."Dulu dia sangat tertutup, tidak mau bergabung dengan kegiatan kampung. Namun belakangan dia mulai bisa membaur. Namun demikian dia memang terlihat sering bepergian ke luar desa, karena saya sering berpapasan dengannya membeli bensin eceran di kios bensin dekat rumahnya," papar Agus.Meskipun sudah bisa membaur, menurut Agus, Sutarjo tetaplah tidak banyak bicara. Ketika kemarin dia dikeler petugas untuk menggeledah rumahnya, Sutarjo hanya diam saja ketika petugas mempertemukan Sutarjo dengan Agus."Saya kaget karena tidak menyangka dia masuk dalam kelompok berbahaya seperti itu. Kepada dia saya katakan, 'Wah ternyata begini to pekerjaanmu'. Saat itu dia hanya tersenyum saja, tidak ada komentar apapun darinya," lanjut Agus.Seorang warga setempat mengaku pernah mendengar informasi bahwa Sutarjo pernah pergi ke Poso selama satu tahun dan mendapatkan luka tembak di pundak selama 'berjihad' di kawasan konflik itu. Namun baik Sutris, Agus Iswanto maupun Ny Harjo mengaku tidak mengetahui secara persis kebenaran informasi itu.Menurut keterangan Agus, dalam penggeledahan itu polisi menemukan TNT, empat pucuk senjata api, detonator, magazin, cairan serta sejumlah dokumen tertulis. Semua barang-barang itu dibawa oleh polisi.
(mbr/djo)











































