Miskin, Fatimah Menarik Becak
Kamis, 22 Mar 2007 18:20 WIB
Palembang - Fatimah adalah sosok perempuan tegar. Jika beberapa orang bunuh diri karena tidak kuat menanggung kesulitan hidup, perempuan yang satu ini memilih berjuang sekuat tenaga dengan menarik becak.Suaminya telah lumpuh, orangtuanya juga sudah berusia lanjut, sementara anaknya masih balita. Belum lagi, tak ada satu pun harta berharga yang dimiliki keluarga Fatimah.Hampir setiap malam, perempuan perkasa itu menarik becak di kawasan rumah susun, 24 Ilir, Palembang. Profesi ini telah digeluti Fatimah sejak Januari 2007 lalu, ketika suaminya, Muhammad (46), mengalami sakit lumpuh pada kedua kakinya.Sehari, perempuan bertubuh kurus ini dapat mengumpulkan uang sekitar Rp 20-30 ribu. Uang tersebut cukup buat biaya makan. "Kalau ada sisa sedikit saya kumpuli buat membeli obat suami," kata Fatimah saat ditemui di rumah panggungnya berukuran 3 x 2 meter di Jalan Timor No.51 RT.03 RW.03, Kelurahan Lorok Pakjo, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang, Kamis (22/03/2007).Sebelum lumpuh, suami Fatimah dirawat di rumah sakit umum Moehammad Husin Palembang, September-Desember 2007. Suaminya yang bekerja sebagai sopir angkutan umum itu didiagnosa dokter terkena penyakit paru-paru basah, sakit jantung, dan diabetes."Untung bae biaya berobat selama tiga bulan di rumah sakit, kami ditanggung pemerintah dengan kartu Askeskin. Tapi, saya tidak tahan biaya ongkos dan perawatan, dan anak kami dan orangtua kami butuh makan. Jadi, saya bawa suami pulang ke rumah," tuturnya.Di rumahnya, tidak ada televisi dan perabotan yang mewah. Hanya ada satu dipan dan beberapa lembar kasur dan tikar, serta satu lemari yang kakinya sudah patah dan dilapisi lipatan kertas. Satu-satunya hiburan di rumah itu hanyalah radio.Selain menarik becak pada malam hari, ibu dari Rafly (4,4), dari pagi hingga sore, Fatimah bekerja serabutan. Dari mencuci pakaian hingga mengedarkan minyak tanah keliling kampung.Sebenarnya, Fatimah ingin minta bantuan dana kepada gubernur dan walikota Palembang untuk membiayai pengobatan suaminya. Tapi, lurah setempat menolak menandatangani proposal (surat) miliknya dengan alasan tidak jelas."Saya yakin ini cobaan dari Tuhan. Saya yakin cobaan ini akan segera berakhir, meskipun saya cemas dengan nasib anak saya yang sebentar lagi akan sekolah," kata Fatimah, yang mengaku tidak pernah diganggu orang saat menarik becak pada malam hari.Para tetangga Fatimah sendiri cukup perhatian dengan keluarga Fatimah. Namun, lantaran mereka juga hidup dalam kesusahan, mereka hanya dapat membantu seadanya, seperti membagikan makanan. "Rakyat nih susah semua. Tinggal bagaimana pemerintah membantu kami," katanya.
(tw/ken)











































