Penyebaran ESQ Bisa Menciptakan Perdamian Dunia
Rabu, 21 Mar 2007 15:43 WIB
Jakarta - Penyebaran nilai-nilai Emotional and Spiritual Quotien (ESQ) diyakini bisa menyebarkan perdamaian dunia. "Mereka yakin, lewat ESQ mereka dapat turut menciptakan perdamaian dunia. Banyak diantara mereka yang mengaku baru kali ini mendapatkan pemahaman yang lengkap soal Islam, yang selama ini selalu dikaitkan dengan hal-hal negatif dan cap terorisme," ujar pendiri dan pimpinan lembaga pelatihan manajemen Emotional and Spiritual Quotien (ESQ), Ary Ginandjar Agustian dalam siaran persnya kepada detikcom.Pada paparan pendiri dan pimpinan lembaga pelatihan manajemen Emotional and Spiritual Quotien (ESQ), Ary Ginandjar Agustian, tentang nilai-nilai ESQ, disambut antusias para peserta Seminar Internasional tentang Spiritualitas di Oxford, Inggris. Dalam seminar yang digelar The Oxford Academy of Total Intelligence dari 11 Maret hingga Minggu (18/3/2007) itu, Ary bahkan dianggap Danah Zohar sebagai figur yang potensial menjembatani hubungan Islam dengan Barat."Kami benar-benar terinspirasi apa yang Anda paparkan," kata Ary, mengulang apa yang dikatakan Danah Zohar yang mendatangi dan memeluknya usai presentasi.Menurut Prof Zohar yang menyebut Ary sebagai contoh nyata pekerjaannya, dengan pemaparan Ary, seharusnya tidak ada lagi pihak yang membenci Islam. "Dunia membutuhkan Ary dan orang-orang penyebar semangat kasih sayang seperti dia, yang bisa memperbaiki hubungan antara Islam dengan Barat," kata Prof Zohar.Turut mendatangi Ary tatkala masih berada di podium adalah Prof Ian Marshal. Baik Prof Zohar maupun Prof Marshal merupakan pendiri dan pengasuh The Oxford Academy of Total Intelligence. Keduanya juga penulis buku spiritual yang menjadi bestseller dunia, Spiritual Capital.Tidak hanya keduanya yang menyatakan terinspirasi nilai-nilai ESQ. Peserta lain asal Afrika Selatan yang juga merupakan Country Director Knowledge Works, Dr Fritz Holsfer, menyatakan, sebelumnya ia menganggap Islam itu begitu menakutkan. Antara Islam dan agama lain, terutama Kristen, merupakan titik-titik yang tidak bisa dipersatukan. "Setelah sessi Ary, saya merasakan adanya kesatuan yang kuat. Saya tidak lagi melihat kedua agama itu sebagai penghalang kebersamaan dan persaudaraan seluruh umat manusia," kata Holsfer.Sementara Diana Wyatt dari Kepulauan Karibia, menyatakan bahwa paparan Ary telah membawanya kepada momen meditative yang membuatnya memasuki dirinya sendiri. "Saya yakini, itulah spiritualitas. aya melihat ketulusannya dalam berbicara," ujar Wyatt.Para peserta seminar yang datang juga merupakan para spiritualis dan akademisi berbagai universitas dari Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Denmark, Australia, Slovenia, India, Afrika Selatan, Tibet dll, kebanyakan bergelar doktor bahkan profesor. "Selain itu latar belakang agama mereka juga beragam dari Kristen, Hindu ,Budha bahkan yang ateis pun ada," ujar Ary.
(mar/mar)











































