Bahan Peledak di Sukoharjo Terkait Penangkapan Teroris di Sleman
Rabu, 21 Mar 2007 22:02 WIB
Sukoharjo -
Penemuan bahan peledak dan senjata di bunker rumah Sikas di Sukoharjo terkait dengan penggerebekan teroris di Sleman. Rumah Sikas digeledah setelah Sikas tertangkap bersama beberapa orang lain oleh Densus 88 di Sleman. Memang belum ada pejabat Polri yang membenarkan tentang hal ini. Namun informasi yang didapatkan detikcom, penggerebekan rumah Sikas di Dusun Pancasan RT 1 RW 3 Desa Toriyo Bendosari, Sukoharjo itu dilakukan polisi setelah Densus 88 menangkap sejumlah orang yang diduga kawanan teroris Abu Dujana. Menurut sumber di kepolisian, Sikas merupakan salah satu dari beberapa orang yang ditangkap oleh polisi. Setelah tertangkap di Sleman, Sikas kemudian diinterogasi polisi. Dari mulut Sikas-lah, polisi mengetahui ada bahan peledak dan senjata di bunker di dekat dapur rumah Sikas.Lantas pada Rabu (21/3/2007), Sikas dibawa Densus 88 ke rumahnya dan diminta menunjukkan bunker tempat penyimpanan senjata dan bahan peledak. Setelah itu, Sikas pun dibawa kembali oleh Densus 88 untuk mencari para teroris lainnya yang kabur. Abu Dujana, yang dituding berada di belakang bom Kedubes Australia termasuk yang kabur dari sergapan polisi. Setelah dipastikan ada bunker di rumah Sikas, polisi mendatangi rumah Sikas pada Rabu siang. Setelah bunker digali, ditemukan banyak bahan peledak dan senjata serta amunisi. Bahan peledak dan senjata-senjata ini disita dan diamankan oleh polisi. Siapa Sikas? Sikas, pria kelahiran 10 September 1970 ini adalah ketua ta'mir masjid di kampung setempat. Menurut Mbah Yoso, salah seorang warga, Sikas hanyalah lulusan SMP. Namun, selama 10 tahun terakhir, Sikas memiliki kelompok pengajian. Seminggu sekali, kelompok ini mengaji di rumah Sikas. Yang mengherankan, anggota pengajian berasal dari daerah lain. Penampilan Sikas juga agak berbeda dengan warga lain. Pria berjenggot ini mengenakan celana panjang di atas mata kaki. Selain itu, istrinya, Surani mengenakan cadar. Pasangan Sikas-Surani tidak memiliki anak kandung. Keduanya mengangkat Salma Mujahidah sebagai anak angkat. Surani saat ditemui wartawan tidak mau berkomentar apa-apa. Polisi secara terus menerus meminta keterangan Surani terkait suaminya dan penyimpanan bahan peledak dan senjata di rumahnya.
(asy/asy)










































