Nyepi, Bali Bak Kota Mati
Senin, 19 Mar 2007 08:11 WIB
Jakarta - Tak ada kendaraan yang melintas di sepanjang jalan di Pulau Dewata, Bali. Suara aktivitas manusia pun tak terdengar. Sepi. Bali seperti kota mati.Situasi semacam ini selalu terjadi saat Nyepi tiba. Pada saat tahun baru saka, umat Hindu yang menjadi mayoritas masyarakat Bali memang melaksanakan caturbrata penyepian.Ada 4 larangan yang tidak boleh dilakukan, yaitu amati karya (larangan bekerja), amati geni (tidak boleh menyalakan api dan lampu) dan merupakan simbol pengendalian diri, amati lelanguan (tidak menikmati hiburan) seperti menonton televisi, mendengarkan radio, dan bercanda, serta amati lelungan (tidak bepergian).Suasana sepi di Bali sudah tampak pada Senin (19/3/2007) pukul 06.00 Wita, dan akan berakhir keesokan harinya di waktu yang sama.Tak tampak sama sekali aktivitas perkantoran ataupun perniagaan. Hotel-hotel pun sudah tidak menerima tamu. Para polisi tak lagi berpatroli di jalanan. Mereka hanya duduk di pos polisi saja.Untuk menjaga keamanan, pecalang (putugas keamanan) desa melakukan patroli keliling desa. Selain mengamankan wilayah, mereka juga bertugas melarang warga yang nekat keluar rumah.Jika ada warga yang membandel tidak mematuhi empat larangan itu, maka akan dikenai sanksi adat. Sanksi ini berbeda-beda di masing-masing desa. Ada yang memberi sanksi denda uang ataupun denda kerja sosial.Para pecalang itu juga kerap mengecek ke rumah-rumah warga. Sebab di saat Nyepi, ada juga warga yang membandel dengan melakukan judi untuk mengisi waktu. Bahkan ada juga keluarga yang ribut.Meski Nyepi, bila ada warga yang sakit atau ada yang hendak melahirkan maka ambulans diperbolehkan untuk lewat dan mengangkut pasien. Demikian pula petugas penyala radar di pelabuhan.Selamat Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1929!
(nvt/nvt)











































