Polisi Masih Pakai Ilmu Kodok
Sabtu, 17 Mar 2007 12:58 WIB
Jakarta - Tragedi penembakan AKBP Lilik Purwanto membuktikan adanya hubungan buruk atasan dan bawahan di dunia kepolisian. Polisi dinilai masih menerapkan ilmu kodok dalam berkarir."Alias jilat ke atas, sikut kanan kiri, tendang ke bawah," ujar psikolog Sartono Mukadis dalam diskusi "Tragedi Polisi" di Time Break Cafe, Plaza Semanggi, Jakarta, Sabtu (17/3/2006).Tidak tanggung-tanggung, Sartono mencontohkan, ada kapolres di daerah yang bercerita kepada dirinya bagaimana meraih sukses. Dia meminta diberi jabatan selama dua tahun dan menjanjikan uang kepada atasannya."Dalam 2 tahun dia benar-benar menggunakan berbagai cara untuk bisa membayar kepada atasannya itu," lanjut Sartono.Menurut Sartono, bagaimana seorang memperoleh jabatannya bisa dilihat dari bagaimana dia memperlakukan bawahan. "Kapolres yang baik ke bawahan, berarti dia memperoleh jabatan dengan karir. Tapi kalau dengan antah berantah, pasti jaim (jaga imej) karena takut digoyahkan bawahan," cetusnya.Hal ini didukung pengamat kepolisian Upa Latuhary. Dia bercerita soal jual beli jabatan dan setor menyetor di dunia kepolisian. Menurutnya, hal itu nyata terjadi, namun sulit dibuktikan."Jadi dalam benak kita, sebenarnya tahu hal itu terjadi. Tapi secara kasat mata tidak terlihat, jadi antara ada dan tiada," kata Upa.
(fay/sss)











































