Menlu Belanda Panggil Dubes Jepang Soal Jugun Ianfu

Laporan dari Den Haag

Menlu Belanda Panggil Dubes Jepang Soal Jugun Ianfu

- detikNews
Sabtu, 17 Mar 2007 01:06 WIB
Menlu Belanda Panggil Dubes Jepang Soal Jugun Ianfu
Den Haag - Menlu Belanda Maxime Verhagen akan memanggil Dubes Jepang Kyoji Komachi, terkait sanggahan Tokyo tentang praktik pemerkosaan tawanan wanita oleh tentaranya dalam PD II.Pemanggilan itu dimaksudkan untuk meminta klarifikasi, menyusul pernyataan resmi pemerintah Jepang yang kembali menyanggah adanya praktik perbudakan seks oleh tentara mereka selama Perang Dunia II. Pemerintah Jepang mengatakan bahwa tidak ada cukup bukti tentang hal itu.PM Jan Pieter Balkenende, yang mengungkapkan soal pemanggilan Komachi, mengatakan seusai sidang kabinet, Jumat (16/3/2007), bahwa dirinya terkejut dengan pernyataan Jepang tersebut."(Pernyataan Jepang) itu kita telah menyaksikan sendiri beberapa kali. Itu hal yang menjadi keprihatinan saya. Kita ingin tahu lebih jelas dulu apa status pernyataan itu," kata Balkenende, seraya menekankan bahwa sanggahan-sanggahan Jepang sebelumnya telah memantik keresahan di pihak para korban.Lebih lanjut Balkenende mengatakan, bahwa dia dapat membayangkan betapa kejengkelan atas pernyataan Jepang itu juga besar di negara-negara seperti Indonesia, Australia, Inggris dan AS.Selama pendudukan Jepang dalam PD II banyak tawanan wanita dijadikan budak seks yang menurut istilah Jepang diperhalus menjadi jugun ianfu (gadis penghibur). Seperti di Indonesia, isu jugun ianfu ini sangat sensitif di Belanda karena para wanita mereka juga dijadikan budak seks selama pendudukan Jepang (1942-1945). Sebelumnya di 1993, pemerintah Jepang melalui pernyataan yang dikenal dengan Pernyataan Kono, telah mengakui adanya para wanita jugun ianfu. Namun PM Shinzo Abe, (2/3/2007), di depan kamera CNN mengeluarkan pernyataan baru dengan menyanggah bahwa tidak ada bukti. Sanggahan itu diulangi lagi hari ini melalui pernyataan resmi. Jika kabinet Belanda langsung mengambil langkah, nampaknya Indonesia kurang menganggap penting membela kehormatan para wanita warga negaranya. Buktinya sejauh ini adem ayem saja. (es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads