Pelajar Indonesia di Malaysia Minta Menhub Diganti
Jumat, 16 Mar 2007 21:33 WIB
Jakarta - Maraknya kecelakaan transportasi di tanah air membawa kekhawatiran tersendiribagi mahasiswa Indonesia di Malaysia. Selain membuat sejumlah mahasiswa yangsering bolak-balik Kuala Lumpur (KL)-Jakarta, deg deg degan ketikamenggunakan pesawat, hal ini pun membawa citra negatif Indonesia di mata orangasing.Merespons hal ini, Persatuan Pelajar Indonesia se-Malaysia (PPIM) menuntut agarPresiden SBY memberhentikan Menteri Perhubungan RI Hatta Radjasa dari jabatannyadan segera mengadakan perombakan sistem transportasi."Seharusnya segera dibentuk Komisi Investigatif dan hasilnya disampaikan kepadapublik secara transparan, serta membawa ke pengadilan, pemilik perusahaan alattransportasi yang tidak mengedepankan unsur keselamatan penumpang," kata KetuaUmum PPIM Abdul Rasyid kepada detikcom di KL, Malaysia, Jumat (16/3/2006). Dia menambahkan undang-Undang yang terkait dengan penyelenggaraan sistemtransportasi pun perlu dianalisa secara menyeluruh dan kemudian diadakan perombakan dalam sistem pemeliharaan pesawat terbang dan alat transportasi lainnya."Pesawat Adam Air yang jatuh di laut Makassar akibat ketidaklayakan berbagaisistem navigasi dan kontrol pesawat tersebut. Sesuai laporan Koran InternationalHerald Tribune pada 30 Januari, para pilot Adam Air telah menyampaikanberulang kali kepada pihak manajemen Adam Air," ucap Rasyid yang juga mengatakanPIIM telah mengirimkan surat seruan kepada Presiden SBY.Di lain hal, sejumlah mahasiswa mengaku khawatir dan takut ketika pulang ke tanahair menggunakan maskapai Indonesia. Sebut saja Chumaidi Syarif, mahasiswa UINYogyakarta yang mengadakan penelitian disertasinya di Malaysia dan akan pulang ketanah air. Dia menilai lemahnya perhatian instansi pemerintah terhadap keselamatan penumpang dan orientasi semata terhadap uang dan keuntungan adalah penyebab terjadinya kejadian kecelakaan selama ini."Saya deg-degan juga, tapi tenang sajalah. Kita semua memang tidak menguasaiteknologi. Semuanya serba uang dan sogokan. Jadi saya tidak setuju kalau menterisaja yang diganti, tapi juga semua pihak turut bertanggung jawab," kata mantan Ketua Umum PB HMI periode 1978-1980 ini.Sejumlah mahasiswa lainnya memilih maskapai asing untuk pulang pergi KL-Jakartadaripada memilih maskapai Indonesia. "Lebih baik mahal sedikit atau banyak daripada nyawa terancam. Bahkan kadang-kadang maskapai asing lebih murah, nyaman, dan aman daripada maskapai Indonesia," kata Avicenna, mahasiswa program master di Universitas Islam Antarbangsa, KL.
(M. Atqa/ndr)











































