Insiden 7 Maret yang Bikin Parno Versi Transjakarta
Kamis, 15 Mar 2007 13:29 WIB
Jakarta - Di internet beredar cerita pemukulan seorang penumpang oleh 4 petugas busway pada 7 Maret lalu. Cerita ini pun membuat sebagian orang parno alias paranoid naik busway. Kepala Humas Transjakarta Rene Nunumete saat dihubungi detikcom, Kamis (15/3/2007) mengatakan telah menindaklanjuti kisah di internet itu dengan memanggil 4 petugas tersebut."Tidak benar para petugas itu melakukan pemukulan dan sopirnya ugal-ugalan. Kalau memang itu yang terjadi, tentunya mereka langsung mendapat surat peringatan," ujar Rene.Petugas Badan Layanan Umum Transjakarta Sri Ulina pun menceritakan kronologi peristiwa tersebut setelah memeriksa keempat petugas busway tersebut. Seorang saksi dari Halte GOR Soemantri Brodjonegoro (Pasar Festival) tempat peristiwa berlangsung juga dimintai keterangan."Yang dibilang ugal-ugalan itu, mungkin karena bus yang berjalan ajrut-ajrutan karena sopir sedang mencoba rem yang basah dan belum kering saat dikemudikan," tutur perempuan yang akrab disapa Ulin ini.Menurutnya, karena rem basah maka terdengar suara berisik dan bus jadi tidak enak jalan. Karena itu, sang pramudi yang bernama Desi meminta izin kepada penumpang busway yang berjumlah lebih dari 85 orang untuk mengetes rem. Izin pun diberikan oleh penumpang."Pada saat mencoba rem itu, pramudinya melepas satu sepatunya. Karena ajrut-ajrutan, maka ada teriakan dari seorang penumpang yang mengkomplain jalannya bus. Pramudinya minta maaf lagi," imbuh Ulin.Menurut keterangan 4 petugas dan seorang saksi itu, pria tersebut bukan turun di halte Halimun (seperti cerita di internet) tetapi di GOR Soemantri. "Setelah turun pria itu menggedor-gedor kaca shelter tepat di seberang pramudi. Karena itu satgas yang ada di busway turun, mereka memegangi tangan pria itu, dan meminta agar masalah diselesaikan di tempat pengendali di Halimun," lanjut dia.Selama perjalanan itu, menurut keterangan Desi, dia juga selalu berkomunikasi dengan petugas pengendali. Dia selalu menyampaikan laporan kondisi busway yang dikemudikannya."Dalam busway itu ada 3 satgas, karena ada 2 satgas yang bertugas membagikan nasi kepada para petugas busway. Saat itu memang supervisor satgas sempat mengeluarkan borgol, tapi hanya untuk menakut-nakuti saja," tambah Ulin.Karena pria itu terus melawan, akhirnya Desi turun. Dia berniat untuk meminta maaf dan menjelaskan masalah itu. Saat turun, Desi tidak sempat mengenakan sebelah sepatunya. Sehingga hanya sepatu yang dia pakai. Lalu ada penumpang di halte yang minta biar damai saja. Dan pria itu mengiyakan. "Kalau dia diperlakukan tidak baik kenapa tidak komplain ke busway, kok justru orang lain," tukas Ulin.Petugas busway yang diperiksa terkait insiden 7 Maret itu adalah Desi, Rahmat, Faisal, Andi, dan seorang petugas kasir di halte GOR Soemantri Brodjonegoro."Karena tidak terjadi apa-apa, ya kini mereka bekerja seperti biasa. Kami selalu ingatkan agar mereka bekerja sebaik-baiknya," sambung Ulin.
(nvt/nrl)











































