Stres Keluarga Picu Depresi Ibu Pasca Melahirkan

Stres Keluarga Picu Depresi Ibu Pasca Melahirkan

- detikNews
Kamis, 15 Mar 2007 00:34 WIB
Jakarta - Melahirkan bayi adalah suatu hal yang sangat luar biasa bagi seorang ibu. Namun tidak semua ibu merasa bahagia setelah melahirkan bayinya, bahkan ada yang mengalami depresi."Stres di keluarga dan kepribadian ibu yang mempengaruhi depresi ibu setelah melahirkan," ujar Guru Besar Psikiatri Fakultas Kedokteran UI Profesor Dr Sasanto Wibisono usai media edukasi paradigma baru pengobatan depresi di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta, Rabu (14/3/2007).Stres keluarga ini bisa berbentuk keadaan ekonomi yang kurang mendukung, atau kurangnya dukungan pada sang ibu. Menurut pria beruban ini, semua ibu yang melahirkan mengalami stres tidak menentu, seperti sedih dan takut. Kepekaan ibulah yang akan mempengaruhi depresi pasca melahirkan atau postpartum depression."Postpartum ini lebih terkait perubahan hormonal sesaat dan situasi kehidupan keluarga," imbuh Santo.Dijelaskan pria beruban ini, bila sindrom ini dialami satu hingga dua minggu setelah melahirkan, maka disebut postpartum blues. "Bila sampai melewati waktu itu maka namanya postpartum depression," jelas Santo.Dikenal pula istilah postpartum psycosis jika orang tersebut sampai berbicara tidak karuan. Postpartum biasanya dialami oleh perempuan yang baru pertama kali melahirkan, memiliki kehamilan yang tak diinginkan, pernah mengalami keguguran, dan memiliki riwayat depresi, memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terkena.Kondisi bayi yang baru dilahirkan juga turut mempengaruhi depresi pada ibu. "Maka itu bila belum siap berkeluarga atau mempunyai anak, sebaiknya tunda dulu," saran Santo.Sindrom ini muncul antara lain karena mencemaskan perawatan terhadap bayi yang baru dilahirkan atau faktor fisik seperti si ibu yang kurang tidur dan kelelahan.Biasanya perasaan seperti itu akan hilang dengan sendirinya. Bahkan ada pendapat yang mengatakan perasaan sedih dan gelisah pasca melahirkan adalah hal yang biasa. Tidak semua perempuan mengalami hal semacam itu melainkan hanya satu dari 10 orang.Sindrom ini dapat menimbulkan perasaan bersalah, tertekan, malu, dan terasing pada sang ibu. Pada umumnya ibu akan mengalami lesu, sulit konsentrasi, susah tidur, tidak nafsu makan, mudah tersinggung, mudah menangis, kurang bergairah, dan putus asa. Meski demikian, derajat perasaan semacam ini berbeda-beda.Bila seorang perempuan mengalami postpartum berkepanjangan maka sangat berpengaruh terhadap hubungan ibu dan anak. Bahkan sang ibu menjadi kehilangan kebahagiaan. Hal ini juga berpengaruh pada hubungan suami istri.Untuk menghindari hal ini, maka perempuan yang akan melahirkan harus mendapat perhatian cukup dari keluarga, terutama suaminya. Berbagai bacaan tentang perkembangan dan perawatan bayi, baik pula dikonsumsi. Bila telah ada gejala depresi maka terapi dengan pengobatan, ataupun psikoterapi bisa diberikan. (fay/fay)


Berita Terkait