Depresi Tak Selalu Bisa Terdeteksi Dokter
Rabu, 14 Mar 2007 16:22 WIB
Jakarta - Anda sering sakit-sakitan? Bila pergi ke dokter, ceritakan semua keluhan Anda. Sebab bisa jadi Anda tidak sakit fisik semata, tetapi juga mengalami depresi."Lebih dari 30 persen kasus depresi di praktek dokter tidak terdeteksi, karena itu yang diobati hanyalah sakit fisiknya saja," ujar Guru Besar Psikiatri Fakultas Kedokteran UI Profesor Dr Sasanto Wibisono.Hal itu disampaikan dia dalam media edukasi paradigma baru pengobatan depresi di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta, Rabu (14/3/2007).Dijelaskan pria yang akrab disapa Santo ini, sekitar 33 persen pasien rawat inap di rumah sakit mengalami depresi. Angka depresi pada orang lanjut usia yang dirawat di RS lebih tinggi sedikit, yaitu 36 persen."Sekitar 85 persen penderita depresi mengalami kekambuhan. Dan biasanya kekambuhan ini menyebabkan gejala berikutnya semakin parah, dan respons terhadap pengobatan lebih sulit," beber pria kelahiran 10 September 1937 ini.Menurutnya, depresi sering terkait dengan kondisi medik lain. Misalnya saja, orang yang menderita kanker, kemungkinan mengidap depresi sekitar 30-60 persen. Sedangkan orang yang menderita stroke, sekitar 23-40 persen mengalami depresi."Kalau sudah divonis mengidap penyakit parah, biasanya banyak yang putus harapan. Kondisi ini yang menyebabkan depresi. Tapi ada juga depresi yang justru memicu penyakit lainnya," lanjut Santo.Dicontohkan dia, seseorang yang depresi lalu sulit makan dan asam lambungnya meningkat, bisa menyebabkan sakit mag. "Kalau diketahui sumber primernya, lalu diobati, maka bisa sembuh juga sakit fisiknya," jelasnya.
(nvt/sss)











































