Kisah Bocah Riska yang Malang
Selasa, 13 Mar 2007 18:23 WIB
Jakarta - Riska (9 tahun) dikenal sebagai anak yang penurut dan rajin membantu orang tua. Di mata teman-temannya, dia adalah teman yang periang serta ceria. Namun, keceriaan itu seolah musnah, ketika 3 bulan lalu setelah Riska menempuh ujian semester di SDN Buaran Jati, Sepatan Tangerang menderita bengkak di pelipis kanan yang belakangan diketahui sebagai tumor ganas. Pembengkakan di pelipis kanannya tersebut kian hari kian membesar. Hingga sekitar dua bulan yang lalu, ketika teman-temannya kembali ke sekolah dengan ceria, putri tunggal pasangan bapak Asmat (35 tahun) dan ibu Rohayani (34 tahun) ini harus tinggal di rumah. Sementara teman-temannya menghabiskan waktu bermain dan bercanda, Riska harus terbaring lemah di rumah menanti uluran tangan donatur.Karena kondisi yang terus memprihatinkan, keluarga berinisiatif untuk langsung membawa riska ke Rumah Sakit. Awalnya, Riska dibawa ke Rumah Sakit Sari Asih di Karawaci Tangerang. Di sana, dilakukan pemeriksaan dengan CT Scan terhadap tumor tersebut. Setelah itu, oleh dokter yang menanganinya, Riska dirujuk ke dokter Ahli di Rumah Sakit Husada Insani, Cipondoh, Tangerang. Karena perlatan yang belum memadai, Riska dirujuk ke Rumah Sakit Dharmais Jakarta. Kembali lagi terjadi 'operan' pasien. Sekitar satu pekan yang lalu, Rabu (7/3/2007), berbekal Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), Riska dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat. Padahal, dia belum sempat di rawat di rumah sakit kendati tumor semakin membesar. Di RSCM, Riska hanya menjalani pemeriksaan darah. Keluarganya segera meminta dokter untuk merawat Riska mengingat dibutuhkan perawatan intensif karena Riska semakin sulit makan akibat pembengkakan yang kian hari semakin membesar hingga ke pipi kanannya. Dengan alasan tidak ada kamar yang kosong, dengan berat hati keluarga Riska kembali ke rumahnya di Gang Solo, Desa Buaran Jati, Kecamatan Sukadiri, Sepatan, Tangerang. Satu pekan terakhir kondisi Riska semakin parah. Hal itulah yang mendorong Asep (40), pamannya, menghubungi Health Care Division Rumah Zakat Indonesia Cabang Tangerang untuk bisa memberi bantuan. Asep datang langsung ke kantor cabang Tangerang Senin (12/3/2007) lalu dengan membawa foto keadaan Riska yang semakin memprihatinkan dengan kondisi lidah yang membusuk. Melihat hal itu, Ubaidillah, Health Care Officer segera menghubungi dokter dan mencari batuan selang infus untuk Riska. Alhamdulillah sudah ada dokter yang kebetulan relawan ahli Rumah Zakat Indonesia cabang Tangerang yang akan berusaha membbantu Riska untuk bisa dirawat secara intensif di Rumah sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang. Ketika meberitahukan hal tersebut kepada Asep, ternyata Allah SWT berkehendak lain. Riska akhirnya berpulang menghadap-Nya untuk kembali dalam rengkuhan Cinta Sang Khaliq dengan menyisakan kesedihan yang mendalam bagi keluarganya.Ba'da maghrib, Marketing Officer Cabang Tangerang bersama salah seorang RFO dan Health Care Officer berkunjung ke rumah Riska di Sepatan Tangerang. Suasana duka menyelimuti lingkungan sekitar rumah. Ketika tiba, ada puluhan bapak-bapak dan ibu-ibu yang sedang "tahlilan" mendoakan almarhumah semoga diterima di sisiNya.Pada kesempatan tersebut, Rumah Zakat Indonesia juga memberikan sedikit bantuan untuk orang tua Riska. Kini Riska telah meninggalkan kita semua. Meninggalkan sedikit prestasi di sekolahnya. Meninggalkan kenangan yang sangat berarti bagi kedua orang tuanya. Semoga Allah menerima di sisi-Nya.(Kisah ini diceritakan oleh Rumah Zakat Indonesia dalam rilisnya yang diterima redaksi detikcom, Selasa (13/3/2007).
(asy/nrl)











































