BIN dan Polisi Harus Tuntaskan Ancaman Bom Via SMS
Selasa, 13 Mar 2007 10:36 WIB
Jakarta - Ancaman bom melalui SMS -- utamanya ke hotline polisi 1717 -- yang marak terjadi akhir-akhir ini diduga sebagai upaya memperkeruh dan merusak citra keamanan dalam negeri. "Aparat penegak hukum baik polisi dan BIN harus bergerak cepat, jangan dibiarkan," ujar Sekretaris Fraksi PAN DPR Zulkifli Hasan pada detikcom di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (13/3/2007).Sekjen DPP PAN ini mengutuk keras aksi teror tersebut. Selain mencerminkan sikap tidak bertanggung jawab, tindakan itu juga mengganggu psikologi masyarakat sehingga menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran publik."Itu tindakan yang biadab dan meresahkan masyarakat," cetus Zulkifli.Menurut Zulkifli, jika pemerintah tidak bisa mengatasi ancaman teror semacam ini, citra keamanan dalam negeri di Indonesia akan semakin buruk. Efeknya, pembangunan ekonomi melalui penarikan investor akan gagal."Teror-teror ini sangat merugikan bangsa dan negara karena itu harus segera ditangani karena tidak ada investor yang datang ke sini," tandas Zulkifli.Minggu lalu, polisi telah membekuk sejumlah orang 'di luar dugaan' sebagai penyebar teror. Mereka adalah petani gabah dari Bojonegoro (pengancam bom Gedung BI), mahasiswi Unisma (pengancam Mal Artha Gadin), bocah 10 tahun (pengancam bom Monas) dan tukang cendol (pengancam bom Kedubes Inggris) serta seseorang yang identitasnya disembunyikan untuk pengancam bom Dufan, Ancol.Mereka mengirimkan SMS ancaman ke call center 1717 milik Polda Metro Jaya. Karena tersangka yang ditangkap orang 'di luar dugaan', muncul aneka kecurigaan.
(nik/nrl)











































