BIN Didesak Klarifikasi Sabotase Kecelakaan Transportasi
Senin, 12 Mar 2007 17:52 WIB
Jakarta - Simpang siur dugaan sabotase pada beberapa musibah transportasi belakangan ini dikhawatirkan dapat merusak stabilitas ekonomi dan politik. Karena itu kalangan di Komisi I DPR meminta agar BIN mengklarifikasi persoalan ini."Kami Komisi I tetap mendesak supaya rumor ini diklarifikasi. Karena kalau tidak, bisa berbahaya. Kita minta ini diselidiki dan diusut sampai mendapat data akurat, jangan sampai berspekulasi," kata anggota Komisi I DPR Happy Bone Zulkarnaen di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (12/3/2007).Politisi Golkar ini beralasan, bila statemen sabotase yang disampaikan sejumlah kalangan terus beredar, ditakutkan bisa membahayakan investasi di Indonesia."Siapapun yang menyatakan itu jangan berspekulasi untuk mengeluarkan pernyataan sabotase," pinta Happy.Namun menurut Happy, berdasarkan penjelasan Kepala BIN Syamsir Siregar dalam rapat dengan Komisi I, unsur sabotase hanya terjadi dalam satu kasus, yakni dalam kecelakaan kereta api di Medan. Pihak BIN pun masih melakukan pengusutan, tetapi sudah mengantungi bukti akurat."Tapi untuk kasus Levina, AdamAir dan Garuda belum ditemukan fakta-fakta," ujar Happy.Happy lalu membeberkan bukti-bukti yang dimiliki BIN dalam kasus kecelakaan di Medan, yaitu dengan ditemukan adanya perubahan jalur kereta api yang biasanya menggunakan rel di sebelah kiri menjadi di sebelah kanan atau sebaliknya."Itu fakta sudah didapat. Tapi sekarang itu kan sarananya sudah tua dan manajemennya kurang baik, maka ditelusuri unsur-unsur lain," tandas Happy.
(ndr/sss)










































