Bunuh Diri Marak, Pemerintah Abaikan Kesehatan Mental Publik

Bunuh Diri Marak, Pemerintah Abaikan Kesehatan Mental Publik

- detikNews
Senin, 12 Mar 2007 17:09 WIB
Surabaya - Banyaknya fenomena bunuh diri yang akhir-akhir ini terjadi, lantaran kesehatan mental masyarakat mengalami penurunan drastis atau sakit. Selain itu, juga didorong pengaruh ekonomi, sosial, politik yang tidak pasti. Ini semua pada akhirnya menimbulkan problem dan masyarakat dalam kondisi keputusasaan.Ahli jiwa RSU dr Soetomo, dr Nalini Agung SpKJ (Psikiatri), mengatakan, kesehatan mental masyarakat sering diabaikan oleh pemerintah dan masyarakat itusendiri. Padahal, WHO pada tahun 2004 telah memperingatkan Indonesia agar memperhatikan kesehatan mental masyarakatnya."Bahkan WHO memprediksi, tahun 2015 kesehatan mental masyarakat Indonesia dalam kondisi mengkhawatirkan. Jika tidak segera diatasi, maka akan seperti kasus narkoba, HIV/AIDS dan lain-lain," katanya kepada detikcom saat dihubungi via telepon, Senin (12/3/2007).Saat ini, lanjut dia, persepsi masyarakat bahwa kesehatan hanya pada fisik semata. Padahal, mental seseorang juga harus diperhatikan. Sebagian dari pelaku bunuh diri atau yang melakukan percobaan bunuh diri karena mengalami gangguan depresi, putus asa dan tidak berdaya."Mereka merasa bunuh diri salah satu cara terbaik, yang nantinya mereka akan menemui kehidupan lain yang lebih baik. Apalagi, berani mati sering didengungkan menjadi suatu hero. Padahal, untuk berani hidup, justru lebih baik," tambahnya.Nalini mengimbau agar masyarakat lebih peduli kepada lingkungan sekitarnya, memberi dukungan sosial terhadap teman atau orang-orang yang membutuhkan. "Pasalnya pada orang yang depresi tidak ada hubungannya dengan orang beriman atau tidak. Namun lebih pada kondisi gangguan atau sakit mentalnya," tambahnya.Ia menyarankan, agar sebaiknya masyarakat khususnya polisi atau instansi yang berwenang lainnya harus selalu memantau atau melakukan pemeriksaan kesehatanmentalnya minimal 1 tahun sekali. "Saya justru mengkritik minimnya jumlah psikiatri yang dimiliki oleh kepolisian. Di Polda Jatim saja, hanya ada 1 psikiatri. Sedangkan di seluruh Indonesia kurang lebihnya memiliki 5 psikiatri," katanya.Tentu, lanjut Nalini, jumlah tersebut tidak imbang dengan jumlah masyarakat yang semakin banyak. "Meski jumlah dokter untuk polisi sudah mulai banyak, hal itu tidak mempengaruhi kesehatan mental anggotanya," kata Nalini menyinggung maraknya polisi yang bunuh diri dengan menembakkan pistol ke kepalannya sendiri. (gik/nrl)



Berita Terkait