Tangisan Warnai Antre Sembako Srikandi di Diponegoro
Minggu, 11 Mar 2007 13:23 WIB
Jakarta - Huu.. huu.. huu... Suara tangis anak-anak kecil berkumandang pada pembagian sembako yang diprakarsai Srikandi. Rupanya mereka terjepit ketika ibu-ibunya berebutan mengambil sembako gratis.Meski sudah memegang kupon, rupanya tigaratusan ibu-ibu yang mengantre sembako ketakutan tidak kebagian. Ketika panitia memberikan sembako secara simbolis, ibu-ibu tersebut malah merengsek ke bibir panggung sambil mengancung-ancungkan kupon."Mbak, saya Mbak, saya Mbak," teriak ibu-ibu tersebut berebutan menyerahkan kupon kepada panitia yang memberikan kantong paket sembako bertuliskan Perempuan miskin tanggung jawab pemerintah. Tebar Pesona No way! Tebar karya baru Ok!Melihat reaksi ibu-ibu yang tidak terkontrol, panitia langsung mengalihkan pembagian sembako ke depan pintu keluar. Diminta antre, ibu-ibu tersebut cukup mengerti. Pembagian sembako berisi beras 1 kg, 0,5 kg gula pasir, 5 bungkus mie instan dan 1 kg singkong berlangsung lancar."Cuma sedikit sih, sebentar juga habis. Tapi ya senang," kata Arni, 27 tahun, salah seorang warga Cikini yang ikut mengantre sembako di bekas kantor DPP PDI di Jl Diponegori Nomor 54, Jakarta Pusat, Minggu (11/3/2007). Sambil menggendong anaknya yang berusia 2 bulan, dia tersenyum puas.Mardiah yang sudah berusia 61 tahun tidak mau kalah dengan yang muda-muda. Meski sudah tua, wanita yang mengenakan daster bercorak kembang-kembang tersebut ikut mengantre."Senang Mbak. Kemarin orang PDI datang ke rumah membagikan kuponnya," kata warga Menteng Jaya, Jakarta Pusat, yang berprofesi sebagai pemulung.Sekitar pukul 13.00 WIB pembagian sembako itu selesai. Sambil tersenyum senang, ibu-ibu itu pulang menuju rumah masing-masing sambil menggandeng anak-anaknya dan menenteng sembako gratisan.
(ana/ken)











































