Pengancam Teror Bom Lewat 1717 Diduga Sindikat
Sabtu, 10 Mar 2007 18:21 WIB
Jakarta - Sungguh aneh! Para pengancam teror bom melalui layanan 1717 merupakan orang-orang yang kurang layak dipercaya sebagi pelaku bom. Bisa jadi, orang-orang yang sudah ditangkap polisi itu bukan pelaku sebenarnya. Ada dugaan sang pelaku sebenarnya adalah kawanan sindikat! Tindak lanjut pemberitaan tentang sejumlah ancaman teror bom di Jakarta yang terjadi belakangan ini sungguh membuat kepala banyak orang bergeleng-geleng. Orang-orang yang ditangkap polisi dan dituding sebagai pelakunya merupakan orang-orang yang lugu. Ada pedagang cendol, ada seorang petani gabah yang tinggal di Bojonegoro, ada bocah 10 tahun, dan ada juga Sus Dwi Ningsih, seorang mahasiswi asal Brebes yang kuliah di Unisma Bekasi. Bisa dipercayakah mereka melakukan ancaman bom lewat layanan 1717? Masuk akalkah seorang petani di Bojonegoro mengirim SMS ke 1717? Bisakah seorang bocah 10 tahun mengirim SMS ke 1717 dan mengancam bom? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kini menggelayuti banyak orang, termasuk Rizky Rahmawati, kuasa hukum Sus Dwi Ningsih. Bisa saja, orang-orang yang sudah ditangkap polisi itu akhirnya mengakui tudingan itu kepada polisi, karena stres atau ingin kasusnya cepat selesai.Menurut Rizky saat dihubungi detikcom, Sabtu (10/3/2007), Ningsih mengaku kepada dirinya tidak melakukan ancaman bom lewat 1717. Selama ini, telepon genggamnya juga tidak pernah dipindahtangankan kepada orang lain. "Saya yakin bahwa klien saya tidak melakukan hal itu. Keyakinan saya bertambah setelah melihat orang-orang yang ditangkap itu adalah orang-orang yang diragukan melakukannya, seperti ada pedagang cendol, petani, dan anak kecil," kata Rizky. Rizky menilai kurang masuk akal apabila mereka bisa melakukan hal seperti itu. Karena itu, Rizky menduga bahwa pelaku ancaman bom melalui layanan 1717 itu merupakan sindikat dengan maksud tertentu. Apalagi, SMS ancaman bom yang masuk ke 1717 merebak dalam waktu yang berdekatan. "Saya curiga bahwa yang melakukan ini adalah sindikat yang bisa mengirimkan SMS melalui nomor acak atau mungkin juga melalui penyadapan. Jadi, mereka yang ditangkap ini bukanlah pelaku sebenarnya," kata Rizky. Untuk menyelamatkan kliennya, saat ini Rizky juga tengah melakukan penyelidikan untuk mengungkap siapa sebenarnya yang menggunakan HP kliennya dan mengirimkan SMS ke 1717. "Mungkin yang pertama saya lakukan adalah meminta keterangan terhadap teman-teman dekat klien saya. Bisa jadi juga HP klien saya dimanfaatkan oleh orang lain," ujar dia. Rizky juga meluruskan pemberitaan selama ini bahwa seakan-akan kliennya kabur ke Brebes setelah mengirimkan SMS ancaman bom. Apalagi kemudian polisi membeberkan kliennya ditangkap di Brebes. "Klien saya itu ke Brebes, karena kuliahnya sedang libur," jelas Rizky.
(asy/asy)











































