"Biarkanlah Kami Tetap Tinggal di Lembah Ngarai"

"Biarkanlah Kami Tetap Tinggal di Lembah Ngarai"

- detikNews
Sabtu, 10 Mar 2007 16:19 WIB
Jakarta - Lembah Ngarai Sianok longsor setelah gempa 5,8 SR mengguncang. Di tengah lembah ini ada 50 KK yang bermukim sejak lama. Walau ancaman longsor tetap menghantui masyarakat, namun mereka tetap tak akan beranjak dari tanah kelahirannya. Desa Ngarai RT 97 Rw 01 masih merupakan bagian dari Kota Bukittinggi. Lembah Ngarai yang terjal tak membuat mereka mau beranjak dari tanah leluhurnya. "Kami dilahirkan di lembah ini. Walau ancaman longsor dan gempa menghantui penduduk, biarkanlah kami tinggal di lembah Ngarai. Sebab di sini kami lahir dan dibesarkan," kata Rizal Chaniago (34), Ketua Pemuda di Desa Ngarai dalam perbincangan dengan detikcom. Di perkampungan ini, sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai petani dan sebagian bekerja sebagai buruh harian. Sebagia lainnya membuka warung di bawah bukit yang terjal. Lembah Ngarai Sianok merupakan objek andalan wisata kota Bukittinggi. Lembah yang indah menjadi mata pencaharian masyarakatnya. Di lembah inilah, di hari libur biasanya paling ramai dikunjungi turis mancanega ataupun lokal. Sebab, pemandangan Ngarai begitu indah. Namun sekarang, pasca gempa, lembah ini tidaklah seindah sebelumnya. Tebing-tebing terjal setinggi 200 meter tak menghijau lagi, karena longsor diguncang gempa. Tapi masyarakat tetap yakin, kelak lembah ini akan indah kembali. Pemerintah setempat sebenarnya sudah pernah meminta warga di sana untuk hengkang. Ini dikarenakan daerah tersebut sangat rawan longsor. "Tapi masyarakat tetap saja enggan untuk meninggalkan kampungnya," kata Walikota Bukittingi, Drs H Djufri.Etek Idah (54) yang membuka warung di tengah lembah tegas-tegas menolak pindah dari kampung mereka. Sebab, dia sendiri terlahir di lembah Ngarai. Apalagi dengan berjualan nasi, dia bisa mendapatkan uang minimal Rp 350 ribu/hari."Kalau kami pindah belum tentu kami bisa membuat warung nasi yang baru. Di sini walau dengan segala risiko, saya bisa memenuhi kebutuhan hidup dengan berjualan. Jadi tak mungkin kami akan pindah dari sini," kata Etek Idah. (cha/asy)


Berita Terkait