Mahasiswa di Hiroshima Terkenang Khutbah Jumat Mulyanto
Jumat, 09 Mar 2007 21:01 WIB
Hiroshima - Baru beberapa minggu berada di Indonesia sepulang dari Hiroshima, Dr Mulyanto Nugroho dipanggil Yang Maha Kuasa. Mulyanto menjadi korban meninggal tragedi pesawat Garuda GA-200. Khutbah Jumat Mulyanto tiga minggu lalu di Hiroshima, Jepang masih membekas di hati para mahasiswa Indonesia. Mulyanto Nugroho, doktor dari Universitas Wageningen Belanda, beberapa minggu lalu menjadi visiting researcher pada Graduate School for International Development and Cooperation (IDEC) Hiroshima University. Mulyanto berada di Hiroshima kurang lebih sebulan. Sebelum meninggalkan Hiroshima untuk kembali ke Indonesia karena program visiting researcher-nya berakhir, Mulyanto sempat menyampaikan khutbah Jumat di International House Hiroshima University yang biasa dijadikan tempat salat Jumat oleh para mahasiswa Indonesia. "Beliau menyampaikan khutbah Jumat sekitar tiga minggu lalu," kata salah seorang mahasiswa Indonesia di Hiroshima University, Karmaji, saat berbincang-bincang dengan detikcom, Jumat (9/3/2007). Para mahasiswa masih terkesan dengan isi khutbah yang disampaikan doktor yang bekerja di Departemen Kehutanan (Dephut) itu. "Beliau menyampaikan bahwa semua mahasiswa yang sekarang ada di universitas ini akan menjadi pemimpin bagi masyarakat sekitarnya, sehingga perlu menyampaikan dan meneladani hal-hal yang baik bagi masyarakat sekitarnya," ujar Karmaji, yang akan menyelesaikan kuliahnya bulan September tahun ini. "Pak Mulyanto juga mengatakan, sebagai pemimpin, maka harus menyampaikan apa pun ilmu yang telah kita capai untuk kemaslahatan umat secara umum," sambung Karmaji. Khutbah Mulyanto ini sangat mengesankan semua orang, termasuk warga muslim dari negara lain yang mengikuti salat Jumat saat itu. Dan ternyata khutbah Jumat tiga minggu lalu itu menjadi perpisahan terakhir Mulyanto dengan para mahasiswa Indonesia di Hiroshima University. Mulyanto menjadi korban meninggal dunia dalam tragedi pesawat Garuda GA-200 di Yogyakarta. Saat tragedi terjadi, Mulyanto menumpang Garuda untuk mengantarkan jenazah pamannya ke Yogyakarta.
(asy/asy)











































