Nuraini Selamat Setelah Dua Kali Dihempas Longsoran Tebing
Jumat, 09 Mar 2007 16:40 WIB
Bukittinggi - Ketika gempa mengguncang Ranah Minang, tebing Ngarai Sianok setinggi 200 meter runtuh. Nuraini, seorang janda berusia 49 tahun pun tertimbun longsoran. Dua kali longsoran tebing itu menyapu tubuhnya. Namun, Nuraini masih bisa menyelamatkan diri. Nuraini yang merupakan warga Dusun Ngarai Sianok ini sudah tiga tahun membuka warung makanan persis di bawah tebing Ngarai Sianok. Saat bercerita kepada detikcom, ketika gempa itu melanda Selasa (6/3/2007) lalu, Nuraini baru saja usai melayani dua orang laki-laki yang memesan mie rebus di warungnya. Di siang itu, pengunjung warung tengah asyik menyantap masakan mie rebusnya. Nuraini pun tegah mengobrol dengan cucunya, Adek Saputra (9 tahun). Berjarak sekitar 50 meter dari warungnya, dia melihat teman cucunya, Rahmad (7 tahun) tengah bersenang-senang mencari ikan di sungai Batang Ngarai. Tanpa disadari, gempa pun mengguncang Ngarai Sianok. Spontan saja Nuraini menyeret cucunya untuk berlari menghindari tebing yang saat itu longsor. Dua orang pengunjung warungnya pun lari terbirit-birit. Janda ini berlari sekuat tenaga. Tapi, Nuraini masih melihat dengan jelas Rahmad yang saat itu berlari ke arah badan jalan dan berteriak meminta tolong. Mendengar Rahmad menjerit minta tolong, spontan Nuraini mencoba untuk menolong Rahmad agar bisa keluar dari sungai."Begitu tangan Rahmad awak pegang dengan tangan kiri, longsoran Ngarai lebih dulu menimbun awak. Anak itu pun terlepas dari genggaman saya. Cucu awak lebih dulu bisa menyelemat kan diri," kenang Nuraini yang masih tampak sedih. Begitu tubuh wanita paruh baya ini tertibun longsoran, dia terus berupaya sekuat tenaga untuk bisa keluar dari reruntuhan tanah kapur tebing Ngarai. Usahanya untuk terus keluar dari reruntuhan rupanya tidak sia-sia. "Saat tubuh ini tertibun longsoran, yang ada dalam pikiran, awak ingin tetap hidup. Sekuat tenaga awak berusaha keluar. Dan akhirnya saya berhasil keluar dari tanah longsor tersebut," tutur Nuraini. Terlepas dari ancaman maut pertama, dia pun berusaha berlari sekuat tenaga. Eh, baru lima meter berlari, tebing itu ternyata runtuh kembali. Kali ini runtuhan tebing yang longsor lebih besar. Meski reruntuhan ini tidak sampai menimbun tubuh Nuraini, namun reruntuhan tebing ini mengantam tubuhnya hingga terpental lima meter. "Longsoran kedua awak tidak tertibun. Tapi awak malah terpental sejauh lima meter. Badan awak terhempas ke badan jalan. Untunglah longsoran itu cuma dua kali terjadi. Kalau saat itu tebing Ngarai longsor tiga kali, mungkin awak pun sudah mati," kata Nuraini.
(cha/asy)











































