Hanya 10% Penderita Ginjal Indonesia yang Ditangani Medis

Hanya 10% Penderita Ginjal Indonesia yang Ditangani Medis

- detikNews
Jumat, 09 Mar 2007 11:41 WIB
Jakarta - Dari 70 ribu penderita gangguan ginjal di Indonesia, hanya sekitar 7.000 atau 10% yang ditangani secara medis. Biaya pengobatan yang sangat mahal jadi alasan.Belum lagi sebagian besar penderita takut menjalani cangkok ginjal.Fakta tersebut disampaikan Staf Ahli Menkes Bidang Medikolegal dr Bambang Giatno dalam seminar di Hotel Gran Melia, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Jumat (9/3/2007).Sebagian penderita gangguan ginjal, awalnya adalah pengidap hipertensi, diabetes, kegemukan dan lain-lain. Untuk penderita gangguan ginjal parah hanya ada dua cara penangangannya, yakni cuci darah dan cangkok ginjal.Sedangkan Direktur RS PGI Cikini dr Tunggul mengatakan, 90 persen cangkok ginjal sukses jika pendonornya adalah keluarganya.Dalam seminar juga dihadirkan dua pasien yang telah melakukan cangkok ginjal dan cuci darah.Dalam penuturannya, Eva (36) yang pernah melakukan cangkok ginjal pada 2001 di RS PGI Cikini mengatakan, dia mendapat donor dari adiknya. "Sampai sekarang saya tidak mengalami masalah," kata dia. Sedangkan Iin Sukarna (40) menuturkan, hingga kini dia masih terus melakukan cuci darah. Dia menjalani rutinitas tersebut selama 20 tahun. Setiap minggu dia harus menjalani dua kali cuci darah."Karena memegang Askes, saya gratis cuci darah. Padahal untuk sekali cuci darah butuh Rp 500-Rp 600 ribu," katanya.Di Indonesia, cangkok ginjal diawali tahun 1977 di RSCM dan RS Cikini. Secara global, lebih dari 50 juta orang menderita gangguan ginjal. Mereka menggantungkan hidup pada mesin cuci darah dan rata-rata harus menunggu selama 7 tahun untuk cangkok ginjal. "Itu pun kalau ada pendonor," kata dr Bambang. (umi/nrl)


Berita Terkait