Pemerintah Tidak Putus Kontrak Kobatin
Rabu, 07 Mar 2007 19:14 WIB
Jakarta - Pemerintah menyatakan tidak akan begitu saja memutuskan kontrak PT Koba Tin dalam pertambangan timah di Bangka Belitung.Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro di Jakarta, Rabu (7/3/2007) mengatakan, pemerintah setidaknya harus melihat tiga hal sebelum memutuskan suatu kontrak.Pertama, harus ada keputusan hukum berkekuatan tetap yang menyatakan Koba Tin memang bersalah. Kedua, Koba Tin tidak memenuhi ketentuan yang tercantum dalam kontrak. Terakhir, pemerintah dan Koba Tin sepakat untuk dilakukan sama-sama melakukan pemutusan kontrak."Selama tidak terjadi (ketiga) hal itu maka pemerintah menghormati kontrak dengan Koba Tin," katanya. Pemerintah, lanjut Purnomo, juga akan mengedepankan azas praduga tak bersalah dalam menyikapi kasus Koba Tin tersebut.Sebelumnya, Kapolri Jenderal Pol Sutanto meminta Menteri ESDM memutuskan kontrak Koba Tin karena diduga terlibat dalam kegiatan pertambangan timah illegal.Mabes Polri saat ini tengah menahan sejumlah orang termasuk direksi Koba Tin terkait kasus tersebut.Sebelumnya, Ketua Komisi VII DPR Agusman Effendi meminta pembenahan tata niaga timah dilakukan secara transparan agar Indonesia mampu memanfaatkan momentum tingginya harga komoditas tersebut sekarang ini."Selama ini, tata niaga timah memang sudah carut-marut, karenanya perlu dilakukan pembenahan dengan penegakan hukum yang transparan, agar iklim usaha pertambangan timah semakin kondusif," ujarnya.Menurut Agusman, tidak adanya kriteria yang jelas antara tambang inkonvensional (TI), tambang rakyat dan tambang tanpa izin membuat praktik penambangan timah khususnya di wilayah Bangka-Belitung sulit dikontrol dan bercampur dengan kegiatan tambang legal.Padahal, posisi Indonesia sesungguhnya dapat menjadi pengendali harga timah dunia mengingat volume ekspor tahun 2006 mencapai 123.500 ton, sementara kebutuhan timah dunia sekitar 280 ribu ton.Ekspor timah Indonesia tersebut dipasok dari dari PT Timah sebesar 43.000 ton, PT Kobatin 20.500 ton, "smelter" swasta 15.000 ton dan 45.000 ton lainnya dari hasil pengolahan kembali.Sedangkan, data Departemen ESDM menyebutkan, produksi timah tahun 2006 yang berasal dari PT Timah tercatat berupa konsentrat 28.845 ton dan logam 31.479 ton, sedangkan Koba Tin memproduksi konsentrat 25.121 ton dan logam 17.877 ton.Saat ini, harga timah di pasar dunia berada pada posisi yang cukup tinggi yakni mencapai di atas 13.000 dolar AS per ton atau meningkat dua kali dibandingkan harga Januari lalu.
(mar/mar)











































