Polisi Tokek

Kolom

Polisi Tokek

- detikNews
Kamis, 08 Mar 2007 16:23 WIB
Den Haag - Teroris tidak akan mengirim pesan ke polisi melalui SMS. Polisi kok pandir dan gaduh. Bagaimana turis dan investor asing mau masuk Indonesia kalau terus dikesankan gawat seperti itu?Saya tidak tahu seberapa sadar para pejabat Indonesia tentang era informasi dan desa global saat ini. Namun dari polah mereka, nampaknya 99,99% tidak. Buktinya, beberapa pejabat tinggi termasuk Ketua DPR sudah ribut duluan mengenai kemungkinan sabotase dalam kecelakaan pesawat Garuda di Yogya. Bersamaan dengan itu polisi merilis bahwa pihaknya menerima SMS yang isinya ancaman beberapa gedung vital akan dibom: kedubes AS, kantor BIN, Bank Indonesia dan Freeport. Seram! Kesan yang timbul: Indonesia gawat sekali, bahaya, teroris gentayangan di mana-mana. Teori sabotase, yang berimpitan dengan terorisme, lalu berbiak liar.Apa tidak sebaiknya setiap SMS yang masuk berisi ancaman itu diselidiki dulu? Setelah jelas baru berbunyi ke pers, senyaring polisi bisa. Bukankah melacak pengirim SMS itu sangat mudah? Demikian mudahnya dijejak dan dilacak, sehingga teroris betulan tidak akan begitu bodoh mengirim pesan melalui SMS, apalagi ke polisi.Tapi rangkaian 'SMS ancaman bom' itu oleh polisi belum apa-apa sudah disampaikan ke pers. Bukan sekali, dua kali. Dalam benak saya lalu muncul pertanyaan, "Ini polisi apa tokek?" Setiap ada SMS berisi ancaman, langsung berbunyi, "Tokek... ada teror! Tokek... di sana! Tokek... awas! Tokek... ada bom!" Ternyata dari SMS-SMS berisi pesan teror itu pelakunya cuma petani kampung dan anak usia 10 tahun. Citra negatif keamanan sudah terlanjur terbentuk, sementara kegaduhan dan ketakutan terlanjur menyebar. Padahal tersedia alternatif penanganan yang berbanding terbalik dari cara gaduh seperti itu.Saya ingat saat berkunjung ke Norwegian Centre for Human Rights (NCHR), Universitas Oslo, Norwegia, tiga tahun lalu. Salah seorang staf mengungkapkan bahwa lembaga ini memonitor perkembangan Indonesia dengan seksama. Ibaratnya setiap ada pejabat bersin, mereka tahu. Kalau ada jarum jatuh, juga akan sampai ke telinga mereka.Selain lembaga-lembaga khusus, media asing juga menjadi mata dan telinga untuk memantau Indonesia. Peristiwa kecelakaan pesawat Garuda dan isu keamanan dilaporkan dengan cepat oleh media Belanda dari perspektif mereka. Sebagaimana saya dengan cepat melaporkan peristiwa di Belanda untuk masyarakat Indonesia. Di era informasi ini, apa yang terjadi di suatu negara akan cepat sekali diketahui oleh negara lain.Polisi mestinya sadar itu dan bisa membawa diri, terutama dalam hal berkomunikasi. Kalau tingkahnya terus seperti tokek, ya susah. Berapapun sumberdaya dikerahkan untuk diplomasi dan promosi menarik turis dan investor asing, selama Indonesia terkesan tidak aman, mereka tidak akan datang."Tokek... polisi? Tokek... bukan. Tokek... aman? Tokek... bukan. Kapan aman? Tokek... Tokek..." (es/es)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads