Lembah Ngarai Sianok Dipenuhi Debu Berkapur
Kamis, 08 Mar 2007 15:52 WIB
Bukittinggi - Keindahan dan kesejukan Lembah Ngarai Sianok di Bukittinggi seakan ternoda. Kawasan yang biasanya menghijau dengan pepohonan itu sekarang memutih tertutup kapur akibat bukit-bukit yang longsor. Hingga Kamis (8/3/2007), longsor dalam skala kecil masih terus terjadi. Longsor hebat di Ngarai Sianok ini terjadi sejak gempa 5,8 SR mengguncang Sumatera Barat (Sumbar), Selasa (6/3/2007) lalu. Tak lama setelah gempa pertama terjadi, bukit-bukit di Ngarai Sianok yang merupakan bukit kapur itu pun longsor. Saat gempa susulan terjadi, bukit longsor semakin menjadi-jadi. Dengan longsornya bukit-bukit ini, pemandangan Lembah Ngarai Sianok yang sebelumnya enak dipandang, saat ini terlihat gersang. Pemantauan detikcom dari atas Gua Jepang, salah satu tempat wisata di kawasan ini, Lembah Ngarai Sianok terlihat memutih dipenuhi tanah berkapur. Debu berwarna putih dari tanah berkapur itu pun beterbangan dibawa angin. Maka tak mengherankan, apabila orang-orang yang berada di kawasan ini selalu bertopi. Bila tidak dilindungi topi, maka rambutnya akan memutih dipenuhi debu kapur itu. Orang-orang juga mengenakan masker, agar pernafasannya tidak terganggu. Akibat gempa yang getarannya juga dirasakan hingga Singapura dan Malaysia itu, pintu masuk ke Gua Jepang mengalami kerusakan. Pintu gua yang bersemen dan pagar yang terbuat dari besi runtuh terkoyak gempa dahsyat itu. Sementara jalan dari Bukittinggi menuju Lembah Ngarai Sianok -- jarak Bukittinggi ke Ngarai Sianok sekitar 3 km -- retak-retak. Sebelum sampai di kawasan Ngarai Sianok, ada tulisan yang dipampang di jalan 'Stop! Mobil, khususnya mobil besar dilarang melintas!' Polisi juga berjaga di titik ini. Polisi hanya membolehkan mobil minibus saja yang bisa melewati jalan menuju Ngarai Sianok. Jalan berbelok-belok menuju Lembah Ngarai Sianok itu mengalami keretakan setiap berjarak 200 meter. Tebing di sepanjang jalan juga mengalami longsor. Parit-parit di sepanjang jalan yang dibeton juga retak. Meski tebing longsor di Ngarai Sianok masih terus terjadi, namun sekitar 50 kepala keluarga yang tinggal di kawasan ini tidak mengungsi. Mereka masih beraktivitas seperti biasa. Sementara kawasan ini juga semakin sepi dari turis.
(asy/nrl)











































