Roda Pesawat Tidak Berfungsi Diduga Penyebab Garuda Terbakar

Roda Pesawat Tidak Berfungsi Diduga Penyebab Garuda Terbakar

- detikNews
Rabu, 07 Mar 2007 15:37 WIB
Bandung - Penyebab terbakarnya pesawat Garuda GA-200 saat mendarat kemungkinan besar karena rodanya tidak berfungsi dengan baik saat pendaratan. Sehingga menyebabkan badan pesawat langsung kontak dengan runway dan membuat sayap patah. Pilot diduga melakukan pendaratan hard landing atau pendaratan keras. Pendapat tersebut disampaikan dosen Teknik Penerbangan ITB Bambang Hadi Kismono kepada wartawan di ruang kerjanya, Jalan Ganesha Bandung (7/3/2007). "Yang menjadi pertanyaan penting apakah rodanya terbuka saat mendarat. Karena walaupun hard landing tapi rodanya berfungsi dengan baik, biasanya hanya akan patah seperti AdamAir dulu, tidak sampai terbakar," ujar Bambang. Hard landing adalah istilah dalam penerbangan untuk menyebutkan tipe cara mendaratkan pesawat yang sedikit ditekan (dihentakkan) ke landasan yang bertujuan agar tread (kembang) ban pesawat dapat mencengkeram pesawat.Hard landing, jelas dia, biasanya dilakukan ketika kecepatan pesawat saat mendarat lebih cepat daripada yang diinginkan oleh pilot sehingga mau tak mau pilot akan memilih hard landing. Akan tetapi hal itu tidak akan membuat pesawat sampai terbakar. Menurut Bambang, terbakarnya pesawat kemungkinan besar disebabkan karena sayap yang patah, padahal bakar pesawat berada di bagian sayap. Namun yang menjadi pertanyaan, lanjutnya, mengapa sayap pesawat bisa sampai patah jika hanya melakukan hard landing. "Kemungkinan yang lain adalah jika roda tidak berfungsi dengan baik, maka kemungkinan besar dilakukan belly landing (pendaratan dengan perut). Karena mendaratnya tidak pas, maka sayapnya patah. Belly landing memang berbahaya. Tapi kalau pilotnya mampu, cukup aman," kata dia. Jika belly landing yang dipilih, kata dia, seharusnya pilot tidak akan mendarat dahulu sebelum membuang bahan bakar atau terbang berputar-putar hingga bahan bakar tinggal sedikit. Dengan begitu, meskipun sayap patah ketika ketika melakukan pendaratan dengan perut, pesawat tidak akan terbakar. "Jika memang belly landing yang dipilih, si pilot seharusnya memberitahu ATC (Air Traffic Control) di bandara. Sehingga pada saat mendarat akan disiapkan ambulans dan pemadam kebakaran untuk evakuasi penumpang. Tapi itu kan tidak dilakukan," katanya. Ketika ditanya kemungkinan overshoot, Bambang mengatakan hal itu bisa saja terjadi. Namun, sambung dia, jika memang benar itu terjadi maka si pilot biasanya tidak menjadi mendarat dan kembali terbang untuk melakukan pendaratan kembali. (ern/nrl)


Berita Terkait