Sesar Semangko Sumber Gempa, Bukan Siklus 1926 dan 1943
Selasa, 06 Mar 2007 18:10 WIB
Bandung - Keberadaan Sesar Semangko yang terbentang dari wilayah Aceh sampai Selat Sunda menjadi sumber gempa darat di Sumatera. Pergeseran sesar tersebut menyebabkan intensitas gempa di Sumatera cukup tinggi.Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVG) Surono saat ditemui wartawan di kantornya Jalan Dipenogoro, Bandung, Selasa (5/3/2007) mengatakan, gempa darat di Sumatera biasanya menyebabkan kerusakan yang cukup parah. Sebab, lapisan tanah di Sumatera disusun dari endapan kuarter berupa alluvial sungai maupun endapan gunung api yang belum terkonsolidasi sehingga memperkuat efek getaran. "Apalagi Sesar Semangko merupakan sesar paling aktif di dunia. Ditambah kondisi tanah, terjadilah goncangan yang cukup hebat," ujarnya.Hal itu, lanjutnya, terbukti dengan banyaknya bangunan yang roboh akibat gempa yang terjadi Selasa (6/3/2007) siang. Selain Sesar Semangko, sesar aktif di dunia adalah San Andreas di AS.Surono mengingatkan, kemungkinan masih terjadinya gempa susulan. Pasalnya Sesar Semangko yang masih akan terus mengalami pergerakan. Gempa susulan ini baru berhenti jika kondisi Sesar Semangko telah stabil. "Susah ditentukan sampai kapan terjadi gempa susulan," ujar Surono. Sementara itu dihubungi di tempat terpisah, Ahli gempa dari LIPI Danny Hilman mengatakan, gempa yang terjadi di Sumbar juga pernah terjadi pada tahun 1926 dan 1943 dengan magnitude di atas 7 SR yang menewaskan ratusan orang. "Gempa hari ini tidak bisa disebut satu siklus dengan gempa yang terjadi pada 1926 dan 1943. Sebab, kekuatan gempanya lebih rendah dibandingkan yang lalu," katanya.Menurut Danny dengan potensi gempa darat di Sumatera yang cukup tinggi, masyarakat harus disiapkan bagaimana bisa hidup di daerah gempa. Hal itu bisa memperkecil jatuhnya korban jiwa yang banyak.
(ana/ary)











































