Diancam Somasi, Republik Mimpi Berubah Jadi Kerajaan Mimpi

Diancam Somasi, Republik Mimpi Berubah Jadi Kerajaan Mimpi

- detikNews
Minggu, 04 Mar 2007 22:18 WIB
Jakarta - Anda masih ingat Republik BBM yang berubah menjadi Republik Mimpi? Setelah diancam akan disomasi oleh beberapa pihak akibat tayangannya yang selalu mengkritik pedas kebijakan negara tetangga, Indonesia, acara parodi politik itu berubah nama. Kini namanya, Kerajaan Mimpi.Perubahan itu dilakukan atas dekrit yang dikeluarkan Presiden SBY (Si Butet Yogya). "Saya ingin keluarkan dekrit. Boleh saja toh saya keluarkan dekrit. Bahwa sejak saat ini Republik Mimpi berubah menjadi Kerajaan Mimpi," kata Raja SBY.Dekrit itu dibacakan SBY di awal acara, Minggu (4/3/2007). Acara yang ditayangkan setiap Minggu malam pukul 21.30 WIB di Stasiun Metro TV ini pun mengambil tema besar mengenai Kebebasan Pers. Ada 3 alasan, kata SBY, mengapa negaranya berubah menjadi kerajaan. "Pertama, saya ingin jadi raja. Boleh saja toh saya jadi raja. Kedua, raja itu bebas kritik. Kalau presiden itu kan tidak bisa dikritik alias anti kritik," ujar SBY yang disambut riuh tawa hadirin dari Fakultas Ekonomi Univeritas Mercu Buana, Fakultas Hukum Unpad, dan Fakultas Psikologi UI.Ketiga, karena status kerajaan tidak dapat dideligitimasi. Menurut SBY, tidak ada satu pihak pun yang dapat mendeligitimasi status lembaga kerajaan. "Kalau lembaga kepresidenan dapat dideligitimasi melalui somasi, tapi kalau lembaga kerajaan, siapa yang mensomasi," lanjut SBY.Berubahnya status menjadi kerajaan juga berdampak pada perubahan jabatan Jarwo Kuat alias JK. Sebelumnya, JK yang menjabat sebagai wakil presiden, kini menjadi perdana menteri. "Paduka tinggal jalan-jalan saja. Semua urusan pemerintahan biar saya yang jalankan," kata JK saat menjawab pertanyaan SBY, enakan mana menjadi wapres atau perdana menteri.Selain JK, mantan-mantan presiden di Republik Mimpi pun berubah, seperti Gus Pur dan Megakarti yang berubah menjadi Guru Bangsa Kerajaan Mimpi.Perubahan ini terkait atas rencana somasi yang dilakukan Menkominfo Sofyan Djalil terhadap acara parodi politik tersebut. Bahkan sebelumnya, HM Sampoerna juga telah mundur sebagai sponsor utama acara parodi politik itu. Namun begitu materi iklan dari Sampoerna masih muncul juga. (rmd/ary)


Berita Terkait