Referendum Timtim Karena Habibie 'Terprovokasi' Howard
Kamis, 01 Mar 2007 13:17 WIB
Jakarta - Keterangan berbagai pihak didengarkan Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) RI-Timor Leste, untuk mencari titik terang kerusuhan pasca jajak pendapat Timor-Timur 1999. KKP pun membeberkan hasil pencarian keterangannya.Kronologi munculnya opsi referendum yang merupakan usulan pribadi Presiden RI saat itu, Habibie, dibeberkan Mantan Menlu Ali Alatas kepada KKP. Opsi itu muncul karena diduga kuat Habibie 'terprovokasi' isi surat yang dikirimkan PM Australia John Howard."Dari Pak Ali Alatas baru jelas bahwa penentuan opsi referendum berasal dari pribadi Pak Habibie. Pak Habibie mendapat surat dari PM Australia, beliau terpengaruh, lalu tiba pada pendirian referendum itu," ujar anggota KKP Prof Ahmad Ali.Hal itu disampaikan dia di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (1/3/2007).Menurut Ahmad Ali, Ali Alatas mengaku sangat terkejut mendengar keputusan Habibie. Sebab ketika itu di PBB tengah berjalan pembicaraan RI dengan Portugal untuk opsi pemberian otonomi khusus kepada Timor Timur.Hal baru lain yang juga terungkap adalah kemungkinan pemicu terjadinya kekerasan di Timor Timur 1999 pasca jajak pendapat adalah tawuran antar warga. Kelompok yang pro dan anti referendum lantas terlibat di dalamnya, dan tawuran menjadi meluas.Hal itu disampaikan Dubes RI untuk Portugal Lopes da Cruz saat memberikan keterangannya pada KKP."Bapak Da Cruz menjelaskan sejarah tawuran sudah ada sejak zaman sebelum Portugis (sekarang Portugal) masuk, dan sampai sekarang mereka (orang Timor Leste) masih sering Tawuran," lanjut Ahmad Ali.Untuk mengungkapkan apa yangs sebenarnya terjadi pada sebelum dan sesudah jajak pendapat, KKP akan terus meninta keterangan pijak-pihak terkait. Mereka akan dikonfrontir dengan hasil dengar pendapat yang telah digelar sebelumnya. Rencanaya seluruh proses dengar pendapat akan diadakan sebanyak 24 kali sampai Juni 2007.
(nvt/nrl)











































