Lontong Tjap Indonesia-Tiongkok
Rabu, 28 Feb 2007 21:25 WIB
Jakarta - Lontong cap go meh yang dihidangkan di hari ke-15 prosesi perayaan Imlek, ternyata bukan sembarang makanan. Menu ini ternyata adalah salah satu bukti pembauran budaya Indonesia-Tiongkok. "Lontong cap go meh menjadi representasi pertautan budaya lintas etnis. Lontong bukan makanan orang Tionghoa, tapi Indonesia. Sementara cap go meh bagian dari prosesi perayaan Imlek," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pernyataan di atas disampaikanya dalam pidato sambutan peringatan 50 tahun hubungan kebudayaan RI-RRT di Arena PRJ, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2007). Turut hadir dalam acara malam ini antara lain Ketua DPR Agung Laksono, Gubernur DKI Sutiyoso, Menko Polhukam Widodo AS dan Menbudpar Jero Wacik. Bukan hanya lontong cap go meh yang membuktikan betapa eratnya hubungan kebudayaan Indonesia dan Tiongkok. Presiden pun kemudian mencontohkan seni barongsai dan toa pe kong yang kini tidak hanya dimainkan etnis Tionghoa saja, tapi juga oleh etnis lain di Tanah Air. Rangkaian prosesi perayaan Imlek yang baru bisa dirayakan secara terbuka di Indonesia dalam delapan tahun terakhir telah menjadi bagian proses tranformasi dan pembauran budaya Tionghoa dengan lokal. Atraksi yang mengiringi perayaan tahun baru itu pun juga menjadi tontonan menarik dan menghibur bagi seluruh masyarakat. "Kebersamaan ini mengandung makna amat dalam, bahwa tidak ada lagi istilah pribumi dan non pribumi. Masyarakat makin terbuka dan berjalan beriringan melalui proses komunikasi budaya antar etnis," tambah Presiden yang kemudian disambut tepuk tangan hampir lima ribu orang yang memadati lokasi acara.
(lh/ndr)











































