Pusat Riset Internasional Akan Dibentuk di Aceh
Selasa, 27 Feb 2007 21:27 WIB
Banda Aceh - Lembaga riset bertaraf internasional yang akan melakukan kajian tentang gempa bumi, tsunami dan juga kajian-kajian tentang sosial budaya Aceh akan segera dibentuk.Demikian salah satu rekomendasi yang dihasilkan dari Konferensi Internasional Pertama Mengenai Studi Aceh dan Kawasan Samudea Hindia."Board-nya sudah terbentuk, dan sudah ada steering committee, nanti steering committee ini yang akan melakukan pembicaraan lanjutan tentang bagaimana lembaga riset ini," terang Kepala BRR Aceh-Nias Kuntoro Mangkusubroto usai acara penutupan di Hotel Swis-Bell, Banda Aceh, Selasa (27/12/2007).Ditambahkannya, BRR Aceh-Nias akan tetap berkomitmen untuk membantu lembaga riset yang akan dibentuk."Tapi BRR akan komit dengan program, artinya, jika ada penelitian atau riset yang sesuai dengan policy BRR, akan kita dukung. Kemudian setahun lagi akan ada konferensi di London, dan kita akan kirim 3 peneliti Aceh ke sana," ujar Kuntoro memaparkan dukungan yang akan diberikan BRR.Direktur Donor dan Hubungan Internasional BRR Aceh-Nias Heru Prasetyo menjelaskan, kelak, lembaga riset yang akan berkedudukan di Aceh ini akan memiliki dua jenis board."Board of Trusty menyaring dana dari luar supaya bisa dikendalikan waktu dana itu masuk ke trust fund yang akan kita bentuk. Dan masih kita pikirkan apakah trust fund ini akan kita bentuk di sini atau di Singapura," paparnya.Dijelaskan dia, Singapura dipilih karena saat ini di Indonesia belum memiliki undang-undang trust fund yang baku. Selain itu, acara ini juga bekerjasama dengan Asia Research Institute milik National University of Singapore.Board lainnya yang dibentuk adalah Board of Academy, yang akan diisi oleh para akademisi. Dikatakan Heru, sejauh ini Malikul Saleh, Ar Raniry dan Syiah Kuala merupakan tiga universitas di Aceh yang menyatakan bersedia bersedia duduk dalam board selain National University of Singapore. Tetapi ada beberapa negara peserta seperti Jepang, Jerman, dan Australia yang menyatakan juga bersedia duduk dalam board."Komitmen yang kita minta, paling tidak mereka melakukan meeting dua kali dalam setahun. Ini sebenarnya untuk mengarahkan steering committee di bawahnya. Soalnya, focus group discussion dalam konferensi ini menghasilkan banyak sekali produk. Nantinya, itu akan kita tindak lanjuti untuk dijadikan proposal agar dapat didanai," terangnya.Intinya, lanjut Heru, lembaga riset bertaraf internasional -- yang tidak hanya akan mengkaji soal gempa bumi dan tsunami tapi juga sosial, budaya Aceh -- kualitasnya akan lebih dari lembaga riset yang sudah ada di Aceh.Menyinggung soal penggalangan dana, dituturkannya, dana yang masuk nantinya akan diputuskan oleh Board of Academy, akan ke mana dana itu ditempatkan sesuai dengan permintaan pemberi dana. Jika sudah diputuskan, maka baru akan dikeluarkan oleh Board of Trusty."Jadi kita jaga banget duit ini agar nggak sampai dikorup. Kalau dikorup, nanti luar negeri nggak percaya lagi," tandasnya sembari mengatakan, paling lambat dalam satu bulan ke depan, lembaga ini diharapkan sudah mulai dapat berjalan.
(ray/sss)











































