Doakan Suherman dan Guntur, Wartawan Bali Pakai Pita Hitam
Selasa, 27 Feb 2007 14:54 WIB
Denpasar - Nasib naas yang dialami 2 wartawan korban tenggelamnya KM Levina I, juga mengundang rasa duka kalangan jurnalis di Bali. Mereka pun khusyu memanjatkan doa.Sekitar seratus orang wartawan berdiri dengan kedua belah telapak tangan dirapatkan di dada di Monumen Braja Sandi, Jl Puputan Raya, Renon, Denpasar, Bali, Selasa (27/2/2007). Masing-masing tampak mengenakan pita hitam di lengan kanan.Acara doa bersama itu dipimpin oleh Gus Indra, dari kelompok spiritual Asram Gandhi. Suasana sangat hening saat doa dan mantra dibacakan. Hujan lebat mengiringi ritual doa ini.Usai doa bersama, acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi membahas peristiwa itu. Masing-masing wartawan mengemukakan pendapatnya mengenai peristiwa yang menyebabkan Suherman (Lativi) meninggal dunia dan Guntur (SCTV) hilang. "Kita tidak bisa menyalahkan siapa pun dalam kejadian tersebut, baik itu KNKT, polisi maupun wartawan sendiri. Kejadian itu murni musibah," kata Frans Sarong, wartawan sebuah harian nasional."Peristiwa ini harus dijadikan pelajaran yang berharga. Kita harus waspada saat bertugas dalam kondisi apa pun," timpal Wayan Juniarta, jurnalis lainnya.Acara kemudian ditutup dengan melakukan tabur bunga di Pantai Shindu, Sanur. Dua karangan bunga dilarung di pantai tersebut. "Selamat jalan kawan," ucap mereka lirih.
(djo/nrl)











































