Penggali Kubur di Cimahi Laris Manis Gara-gara Levina I
Senin, 26 Feb 2007 14:12 WIB
Cimahi - Peluh mengucur deras dari dahinya. Kaus belel biru lengan panjang yang dia kenakan pun terlihat basah oleh keringat. Sesekali dia menyingsingkan lengan bajunya yang melorot ke bawah. Dia pun meneruskan mencangkul. Kini di hadapannya terbentuk sebuah lubang ukuran 4x2 meter persegi dengan kedalaman 1 meter. "Lubangnya besar karena untuk dua orang. Kalau untuk sendiri, kita buat lubang seluas 2x1 meter persegi," ujar Dedi (37), penggali kubur di Taman Pemakaman Umum (TPU) Pojok, Kelurahan Setiamanah, Cimahi, Jawa Barat, saat berbincang dengan detikcom, Senin (26/2/2007). Sudah 17 tahun Dedi menggeluti profesi ini. Pria lulusan SD ini mengaku menggali kuburan merupakan mata pencaharian utamanya. Jika tidak ada orang yang meninggal, Dedi menganggur. "Paling-paling ikut jadi buruh bangunan, seperti perbaikan jalan atau membangun rumah orang. Tapi itu pun sangat jarang. Jadi boleh dikatakan kalau saya lebih banyak menganggurnya daripada bekerja," ujar duda dengan dua anak ini. Selama dia menggeluti profesi sebagai penggali kubur, dalam satu bulan paling banyak dia menerima tiga klien. Bahkan tidak jarang, dalam tiga hingga empat bulan tidak ada orang memanfaatkan jasanya. Namun berbeda dengan pekan ini. Dalam empat hari ini, yaitu sejak Jumat (23/2/2007) hingga hari ini Dedi bersama empat rekan lainnya telah menggali enam lubang kuburan. Pertama, untuk pemakaman Surya Mugiana (51) korban Lavina I yang pertama kali ditemukan meninggal. Kemudian pada Minggu (25/2/2007), Sugianto (47) yang juga korban Levina I. Sementara hari ini, Dedi menggali empat lubang. Satu lubang ukuran besar bagi pemakaman Lucky Suparman (25) dan Imam Sofyan (36) yang juga korban Levina I. "Satu lubang untuk Pak Haji dari Karangmekar yang meninggal karena sakit. Satu lubang lagi dipersiapkan untuk korban Levina lagi. Tapi katanya masih di Jakarta belum dibawa ke sini," tuturnya sambil duduk di tepi batu nisan melepas lelah. Dedi yakin, untuk beberapa hari ke depan dia akan kembali menggali beberapa liang lahat. Sebab, hingga saat ini masih ada empat warga Karangmekar yang menjadi penumpang Levina I belum ditemukan. "Kalau berdagang, kita tuh sedang laris manis nih! Tapi maaf loh, bukannya kami berbahagia di atas penderitaan orang lain. Kami hanya mengumpamakan," kilahnya sambil tersenyum. Ketika ditanya berapa upah menggali untuk setiap lubang, Dedi enggan menjawabnya. "Wah malu Neng, nggak besar kok! Tapi untuk minggu ini alhamdulillah bisa menyambung hidup," ujarnya dengan mata bersinar. Menurut Johandi (57), kuncen TPU Pojok yang mengkoordinir para penggali kubur, upah para penggali tersebut tergantung dari upah yang diberikan keluarga yang meninggal. "Untuk yang tidak mampu, kami tidak mematok harga. Anak-anak (para penggali kubur-red) paling hanya mendapatkan upah Rp 20 ribu atau Rp 30 ribu," ujarnya. Namun bagi yang mampu, setiap satu lubang dipasang ongkos Rp 500 ribu. Dengan tarif ini, para penggali kubur memperoleh upah sebesar Rp 50 ribu. "Uangnya kan dibagi-bagi Neng, buat kelurahan, RT dan RW, serta bagi kuncen. Jumlah resmi penggali kubur di sini lima orang," tuturnya. Khusus untuk lubang kuburan korban bencana Levina I ini, kata Johandi, pihaknya masih belum memperoleh upah sepeser pun. "Yang saya tahu semua ditanggung oleh pemerintah. Setiap lubang untuk yang sendiri Rp 500 ribu. Katanya nanti dari kelurahan akan datang menemui saya," ujarnya. Meski upah belum ada di kantong, Dedi mengaku dirinya sudah cukup senang. Uang itu, katanya, untuk biaya SPP anak pertamanya yang kini duduk di kelas 6 SD. "Sisanya untuk beban hidup dalam beberapa hari mendatang. Jadi saya tidak terlalu pusing," ujarnya tertawa lepas.
(ern/nrl)










































