Pembunuhan Ahli Forensik Medan
Jasa Nurbama Berbuah Petaka
Rabu, 21 Feb 2007 17:47 WIB
Medan - Ibarat anjing yang kejepit, setelah ditolong malah menggigit. Begitulah kelakuan Rory Iwan Syahputra alias Roy (24), tersangka pembunuh ahli forensik Medan, dr Nurbama Syarief.Sebelum tinggal bersama di rumah Nurbama, Jl Eka Rasmi No 10, Medan, Sumatera Utara, 6 bulan yang lalu Roy hanyalah seorang pengangguran. Pemuda yang hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat SMP ini baru saja berhenti bekerja sebagai sopir di sebuah perusahaan kayu."Dia datang ke rumah Bu Nurbawa untuk meminta pekerjaan. Waktu kecil, Roy memang pernah tinggal bersama almarhum," kata Nofri, salah satu kerabat Nurbama di pemakaman Gedung Johor, Selasa (21/2/2007).Menurut Nofri, karena memiliki keahlian sebagai sopir, akhirnya Roy diberi tugas mengantar ke mana pun Nurbama pergi. Selama bekerja, Roy tidak pernah menujukkan gelagat yang mencurigakan. Keluarga tidak pernah menyangka budi baik Nurbama akan berbuah petaka.Pihak keluarga baru menyadari ada sesuatu yang tidak beres saat mendapat kabar dari kolega Nurbama di RS Pirngadi, Medan. Dikatakan, sudah sebulan lebih Nurbama tidak ada kabar beritanya. Kecurigaan itu semakin menjadi-jadi saat ada kabar Roy berusaha mengambil gaji Nurbama ke RS Pirngadi."Kita kemudian lapor polisi, dan semuanya akhirnya terungkap. Saat kita masuk, rumah almarhumah juga sudah kosong. Barang-barang sudah dijual Roy," ujar Nofri.Mengenai hubungan kekerabatan antara tersangka dengan korban, Nogfri mengatakan, Roy bukan cucu kandung Nurbama. Roy adalah cucu dari kakak Nurbama.Dihubungi secara terpisah, Kapoltabes Medan Kombes Irawan Dahlan mengatakan, pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap Roy. Termasuk soal kemungkinan Roy menggunakan obat-obatan terlarang."Kita masih terus melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap tersangka," ujar Irawan.
(djo/sss)











































