Buka Rakernas Hipmi, SBY Bercas-cis-cus
Rabu, 21 Feb 2007 00:00 WIB
Semarang - Dalam memberi sambutan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tampaknya menyesuaikan audiens. Karenanya ketika membuka Rakernas Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), SBY bercas-cis-cus alias menggunakan istilah bahasa asing.Beberapa kali SBY memilih menggunakan Bahasa Inggris dibanding Bahasa Indonesia, terutama untuk menegaskan sesuatu. Meski demikian, peserta Rakernas yang rata-rata anggotanya berpendidikan tinggi, terlihat mencerna dengan baik. Mereka manggut-manggut setelah mendengar istilah-istilah asing."Yang diperlukan saat ini adalah adalah penyegaran paradigma pembangunan, yakni dengan memadukan resources dan information space, meyakini growth without equity is nightmare , ketahanan dan kemandirian, dan perlunya kontribusi semua pihak," kata SBY di Hotel Patrajasa Semarang, Jalan Sisingamangaraja, Selasa (20/2/2007).SBY menjelaskan, GDP kita lebih baik di banding pada saat krisis tahun 1998 lalu. Artinya, Indonesia bisa dikatakan pulih dari krisis meski masih ada masalah di sana-sini.Ikon Partai Demokrat ini menyatakan, permasalahan fundamental yang masih harus dihadapi misalnya, kemiskinan (poverty), pengangguran (unemployment), dan hutang nasional. "Karena itulah kita merumuskan triple track strategy dengan pro growth (pertumbuhan ekonomi), pro jobs (pembukaan lapangan kerja), dan pro poor pengentasan kemiskinan," paparnya.Dijelaskan SBY, Indonesia tidak boleh seperti negara lain yang export oriented tanpa menumbuhkan domestic market. Karena hal itu tidak bisa membuat situasi lebih baik.Dalam hal investasi, SBY berjanji akan mempermudah akses pengambilan dana bank, menurunkan suku bunga, menghapus pajak yang tidak bersahabat, mempermudah perizinan, menciptakan kepastian hukum, stabilitas politik, dan menghapus Perda yang menghambat."Saya telah membatalkan 750 Perda yang tidak pro investasi. Perda itu bertentangan dengan UU," ujar SBY.Ketika membuka Rakernas Hipmi, SBY didampingi istri Ani Yudhoyono, Menko Perekonomian Boediono dan sejumlah menteri kabinet seperti Hatta Radjasa, Syaifulloh Yusuf, Taufik Effendi, Erman Suparno, Surya Darma Ali, Fahmi Idris, dan Anton Apriantono. Tampak juga Seskab Sudi Silalahi dan dua jubir kepresidenan Andi Mallarangeng dan Dino Pati Djalal.
(try/ndr)











































