Kemiskinan Gerogoti Hankam
Selasa, 20 Feb 2007 15:26 WIB
Jakarta - Pertahanan dan keamanan (Hankam) di Indonesia masih rentan. Hal ini disebabkan ketidakmampuan pemerintah untuk memenuhi kesejahteraan rakyatnya. Akibatnya masyarakat yang kesulitan secara ekonomi akan lebih mudah diprovokasi untuk mengancam hankam nasional."Pemerintah saat ini memegang amanat untuk menyejahterakan rakyat secara adil dan merata. Tapi amanat itu tidak dijalankan dengan baik," kata Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Sofian Effendi.Hal ini disampaikan dia usai bertemu dengan Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono bersama dengan rektor seluruh Indonesia di Kantor Departemen Pertahanan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (20/2/2007).Sofian menuturkan, dalam konteks hankam nasional di luar bahaya globalisasi, ketidakmampuan menyejahterakan rakyat justru menjadi faktor ancaman pemerintah."Kalau akhirnya rakyat melihat pemerintah tidak mampu, maka masyarakat dengan mudah dipanasi untuk menjatuhkan pemerintah," ujarnya.Sofian mencontohkan soal janji Presiden SBY untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran, namun dalam kenyataannya bertolak belakang. Bahkan tingkat kemiskinan dan pengangguran justru meningkat 31 persen. Apalagi ditambah bencana alam yang terus menerus. "Rakyat bisa memberontak dan ini ancaman yang lebih serius daripada ancaman senjata dari luar negeri," jelas Sofian.Terkait kedatangan para rektor itu, Sofian mengungkapkan, pertemuan itu untuk membicarakan ancaman pertahanan negara dengan kalangan akademisi. Juga membicarakan soal pengembangan industri pertahanan nasional.
(mar/sss)











































