Wiranto Mungkin Diundang KKP Curhat Soal Timtim
Senin, 19 Feb 2007 17:08 WIB
Denpasar - Bicara pelanggaran HAM di Timtim bagaikan tak bisa lepas dari sosok Jenderal TNI Purn Wiranto. Bukan tak mungkin mantan Menhankam/Pangab itu akan diundang untuk menyampaikan curahan hatinya alias curhat dalam dengar pendapat terbuka Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) RI-Timor Leste."Kemungkinan pada dengar pendapat kedua sekitar bulan Maret atau April," kata Ketua KKP Indonesia Benjamin Mangkoedilaga di Hotel Sanur Paradise, Sanur, Denpasar, Bali, Senin (19/2/2007), menjawab pertanyaan wartawan apakah Wiranto akan dipanggil.Sementara mantan Menlu Ali Alatas menjelaskan, Wiranto mulai memainkan peranan yang menentukan setelah terjadi kerusuhan di Timor Leste."Jadi selama dan sampai saat diumumkannya hasil jajak pendapat, memang polisi yang bertanggung jawab. Tapi setelah terjadi kerusuhan, ABRI (kini TNI) diminta kembali untuk membantu. Di situ letak tanggung jawab pemimpinnya, apakah cukup dengan men-declare state of emergency, ataukah perlu mengundang pasukan asing dalam bentuk pasukan PBB," urai Ali.Ali berpendapat tidak ada keterlibatan ABRI dalam kasus kerusuhan yang terjadi pascajajak pendapat di Timtim."Saya kira tidak ada. Saya kira mereka taat pada apa yang menjadi persoalan yang disetujui di dalam perjanjian keamanan PBB. Mereka baru bertindak setelah kembali diminta oleh PBB," ujar Ali.Ada keterlibatan pasukan asing dalam jajak pendapat? "Yang terlibat dalam jajak pendapat adalah PBB. Jadi bukan pemerintah asing ataupun angkatan bersenjata asing. Mereka baru bertindak setelah dibentuk sebagai International Force for East Timor (Interfet)," kata Ali.Dalam dengar pendapat terbuka KKP untuk pertama kalinya ini, selain mendengarkan keterangan dari Ali yang membeberkan surat dari PM Australia John Howard kepada Presiden BJ Habibie, turut juga didengarkan keterangan dari saksi korban Emilio Bareto dalam kasus kerusuhan di Liquica, dan Mateus Carvalho dalam kasus kerusuhan di Diosis, Dili.Tujuan dengar pendapat terbuka KKP diselenggarakan adalah untuk mengungkap kebenaran masa lalu dan memperkokoh persahabatan. Namun ini bukan kegiatan investigasi untuk mencari siapa yang bersalah dan tidak bersalah.
(sss/asy)











































