Warga Tionghoa Yogya Doakan Banjir Jakarta Tak Terulang
Jumat, 16 Feb 2007 14:52 WIB
Yogyakarta -
Menjelang pergantian tahun baru Cina (Imlek) 2558, ratusan warga etnis Tionghoa di Yogyakarta melakukan doa bersama. Mereka memanjatkan doa agar musibah Adam Air di Sulawesi, tenggelamnya KM Senopati di Laut Jawa, KA Solo Bengawan di Banyumas dan banjir di Jakarta tidak terulang lagi di tahun depan.Doa tutup tahun 2557 dan menyambut tahun baru 2558 berdasarkan kalender Cina itu dilakukan di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kelenteng Tjen Ling Kiong Poncowinatan, Yogyakarta. Acara digelar Jumat (16/12/2007) dimulai pukul 11.00 WIB. Namun sejak pagi hingga menjelang acara dimulai, warga sudah mulai berkumpul di kelenteng yang dibangun pada tahun 1883 Masehi itu.Sebelum melakukan doa bersama, warga Tionghoa bersama keluarga masing-masing memanjatkan doa di depan altar Budha, Kong Hu Cu dan Taoisme. Mereka membakar dupa/hio serta membawa aneka sesaji berupa makanan dan buah-buahan.Sebelum berdoa bersama, bedug dan lonceng di kelenteng dipukul 108 kali sebagai simbol laporan kepada Tuhan bahwa doa bersama akan dimulai. Umat pun akan bersiap-siap dengan membawa yang berjumlah ganjil dan dilanjutkan sujud berjumlah 9 kali.Doa bersama dipimpin oleh petinggi agama Khong Hu Cu, Haksu Tji Sai Ing serta Anwar Santoso dan Candra Gunawan sebagai pengurus dan sesepuh kelenteng. Saat membacakan doa yang dibacakan oleh Aji, mereka mendoakan agar Indonesia di tahun tahun depan dijauh dari segala musibah serat diberikan keselamatan.Berbagai musibah seperti hilangnya peasawat Adam Air beserta penumpang di Laut Sulawesi, tenggelamnya KM Senopati, KA Solo Bengawan dan berbagai musibah lainnya yang menerpa Tanah Air ini selama tahun lalu tidak terulang lagi. "Semoga ditahun depan kita diberkahi dan berikan keselamatan oleh Tuhan. Semoga di tahun babi ini bukan kerakusan babi yang kita tiru," pinta Aji.Usai doa bersama, warga Tionghoa kemudian memperebutkan 6 buah nasi tumpeng yang sudah disiapkan panitia. Nasi tumpeng lengkap dengan berbagai lauk persembahan warga itu sebagian besar dibawa pulang. "Tumpeng ini sebagai bentuk akulturasi budaya Jawa ke dalam etnis Tionghoa, sebab semua yang hadir di sini adalah dilahirkan dan dibesarkan di wilayah Yogya," kata Gutama Fanthoni, salah satu panitia Imlek.
(bgs/nrl)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































